Postcard project

I love sending postcards. I love receiving it more.

So, I’m thinking about sharing this exciting feeling of receiving postcard with you.  If you are accidentally lost in my blog and read this and interested in receiving postcard from me, please write your address. You could email me (sielovesblue(at)yahoo(dot)com) or reply this post.

Don’t worry, i will do no bad thing by knowing your address. i won’t send bad guys, just postcard. =)

 

Postcard from heaven
Go to where you belong
Never find the perfect situation
Untill you know where you’re from

Lighthouse family – Postcard from heaven

 

menikmati (senja) jakarta

Senja di jakarta

Langit musim penghujan di jakarta yang saya ambil dari kantor

Jakarta sudah menjadi tempat tinggal saya selama lebih dari tiga tahun terakhir. Mulai dari tinggal yang hanya sepelemparan batu dari kantor di daerah segitiga emas kuningan (yang harga kosannya juga seharga emas), hingga sekarang yang harus dijangkau dengan transjak dan angkot  (yang jika bus transjak mogok, terlambat datang, atau busway dimasuki pengendara tidak tahu malu, waktu tempuh rumah-kantor bisa menjadi 1.5 – 2 jam).

As some of my friends say, “sekejam-kejamnya ibu tiri, masih lebih kejam ibukota”, i honestly love jakarta. Yes, the traffic is crazy. Yes, the people are even crazier. Yes, the pedestrian is far from safe and decent. Yes, the public transportation are crap. Yes, the parks and other public facilities are screaming for help. Yes, this city is not safe and friendly for pregnant woman and children and disabled, or basically to everyone.

But i honestly do love Jakarta.

Jauh di dalam hati, saya masih berharap orang-orang akan lebih santun berkendara dan menaati rambu lalu lintas. Berhenti di belakang garis zebra cross di lampu merah sehingga pejalan kaki mendapat hak nya. Memberi tempat duduk dengan sukarela kepada ibu hamil, lansia dan anak-anak. Semua supir kopaja, transjak, metromini, angkot dan bajaj serta bemo juga ojeg tidak menyetir secara ugal-ugalan. Tidak membuang sampah sembarangan. Tidak naik dan turun seenak jidat dari kopaja ac P20 (saya pernah melihat ibu hamil sekitar 6-7 bulan turun di duren tiga,namun tidak lewat halte, ibu hamil itu meloncati pembatas jalur busway yang cukup tinggi, terlebih untuk orang hamil. Jantung saya seakan berhenti berdetak waktu itu).

I honestly do love Jakarta.

Ada begitu banyak cara untuk menikmati Jakarta. Berburu buku bekas di Blok M setiap weekend salah satunya. Jakarta punya berbagai museum yang cukup menarik, museum-museum di kota tua, museum BI, bank Mandiri, Museum Gajah, Museum wayang, dan masih banyak lagi.

Atau menikmati konser-konser gratisan yang sering diadakan pusat kebudayaan prancis, belanda, jerman, india, amerika, kineforum, komunitas layar tancap misbar, pasar santa, salihara, pertunjukan seni di TIM dan lain sebagainya.

sepeda

Kendaraan saya selama hampir 2 tahun pertama di Jakarta

Atau sesederhana menikmati senja sepulang dari kantor. Dengan bersepeda, seperti yang saya lakukan selama 2 tahun ketika tempat tinggal saya dari kantor tidak perlu melewati jalan-jalan protokol. Dimana saya bisa dengan tenang tanpa perlu khawatir akan diseruduk oleh metromini/kopaja atau pengendara motor yang tidak sabar.

Atau dengan berjalan satu halte lebih jauh, seperti yang saya lakukan sekarang. Berjalan kaki membuat saya bahagia, dan semoga lebih sehat.

Atau sesederhana untuk selalu bersyukur atas setiap nikmat yang Tuhan beri.

Sambil mendengarkan Senja di Jakarta dari Banda Neira, sambil bergelantungan mencari celah di bus transjak/kopaja. :)

 

 

Senja di Jakarta

Bersepeda di kala senja
Mengejar mentari tenggelam
Hangat jingga temani rasa
Nikmati Jakarta

Bersepeda keliling kota
Kanan kiri, ramai jalanan
Arungi lautan kendaraan
Oh, senja di Jakarta

Parapa, parapa, parapa, parara

Nikmati jalan di jakarta
Parapa, parapa, parapa, parara
Maafkan jalan Jakarta

Bersepeda sepulang kerja
Kenyang hirup asap kopaja
Klakson kanan kiri berbalasan
Oh, senja di Jakarta

Parapa, parapa, parapa, parara

Nikmati jalan di jakarta

Parapa, parapa, parapa, parara
Maafkan jalan Jakarta

Bersepeda, di kala senja

Nikmati Jakarta

 

taking risk,

love, just like life, is about taking risk. love is a choice. you give all of your heart, or in so many cases, your everything to someone without any guarantee it will last till the rest of your life.

love, just like life, is about taking risk. to share all your darkest sins and your wildest dreams. to let someone stay in your heart and take all the space in it.

love, just like life, is about taking risk. to get out from your comfort and peaceful corner to the unpredictable bumpy future together.

love, just like life, is about taking risk. to let someone depends on you. to let your self become vulnerable without him/her.

 

love, just like life, is about taking risk.

 

will you?

satu dasawarsa

it’s been 10 years since i first met Prammu on 2004.

it’s scary how much feeling you can give to and accept from one person. 

masih tetap mengherankan buat saya, seseorang yang terakhir saya lihat sebelum memejamkan mata dan menjadi yang pertama yang saya lihat ketika matahari menyapa, tetap saja saya rindukan saat-saat sebelum senja.

semoga kamu sehat dan panjang umur,begitupun saya. sehingga nantinya kita bisa terus bercerita dan bepergian dan menyaksikan anak-anak kita tumbuh besar dan keluarga kita beranak-pinak.

 

cups,

saya yang mencintaimu, selalu.

Kelas Inspirasi #3 Jakarta

The beginning

Masih teringat pengalaman saya dan teman-teman sekelompok  ketika mendaftarkan diri untuk Kelas Inspirasi dan kemudian mendapat “tugas” berbagi inspirasi di SD Paseban 02 Pagi pada 24 April yang lalu. Sedikit hambatan koordinasi antara kepala sekolah dan para guru sempat kami temui, namun tidak menyurutkan semangat sedikitpun. Mulai dari banyaknya guru yang belum mengerti apa itu kelas inspirasi, hingga kepala sekolah yang pada saat survey hingga hari H kelas inspirasi belum juga berhasil kami lihat seperti apa wujudnya.

 

SD Paseban 02

photo 1

Setelah menembus jalur macet Manggarai-Pasar rumput-Salemba, akhirnya sampailah kami di Jalan Kramat Sawah yang letaknya persis di seberang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Toooooot! Suara nyaring kereta seolah menyapa kami saat berbelok menuju SD Paseban 02. Dari kejauhan tampak ibu penjual jamu yang saat ini sudah mulai jarang ditemui di tengah hiruk pikuk ibukota serta seorang ayah yang mengantar anaknya ke sekolah. Setelah melewati jalan yang cukup sempit dan ramai oleh pedagang kaki lima, kami tiba di depan SD Paseban 02.

photo 2

Riuh geliat aktivitas pagi hari tampak di sana-sini. Para orangtua yang mengantar buah hati, gelak tawa anak-anak yang membahas film semalam serta omelan abang tukang gorengan karena tim sepakbola kesayangannya kalah bertanding semalam.

 

Berbagi Sekolah

photo 3

Jam belajar dimulai pukul 06.30. Jam belajar yang lebih awal ini disebabkan karena keterbatasan ruang kelas. Kelas 1 dan 2 harus bergantian memakai sebuah ruang karena hanya ada 5 ruangan kelas. Tiba di gedung sekolah, kami langsung naik ke lantai 3. Gedung 3 lantai ini digunakan bersama dua sekolah lainnya yaitu SD Paseban 01 dan 03. Selain harus berbagi lantai, mereka juga harus berbagi lapangan sekolah yang luasnya tidak seberapa itu untuk upacara, olahraga dan kegiatan lainnya. Pada saat penutupan Kelas Inspirasi pun tidak semua murid berkumpul karena lapangannya tidak akan cukup menampung 3 sekolah sekaligus.

Pendidikan, penting?

photo 4

Perkenalkan, nama beliau bapak Muh. Yasap, mengajar mata pelajaran Agama Islam. Masih terngiang-ngiang curahan hatinya ketika kami berkunjung ke sana sebelum pelaksanaan Kelas Inspirasi.

“ Ketika ujian sekolah, kami para guru yang datang ke rumah-rumah untuk menjemput jika ada siswa yang tidak hadir, karena orang tuanya tidak peduli dengan pendidikan anaknya. Suatu waktu, ada anak yang masih tertidur dan orang tuanya yang mendiamkan ketika anaknya sulit untuk dibangunkan. Banyak dari orang tua siswa disini tukang cuci, sopir kopaja, pemulung dan tidak sedikit yang suka mabuk-mabukan dan bahkan memakai narkoba, yang masih belum mengerti pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya” ungkapnya jujur sembari tersenyum getir.

photo 5

Di tengah-tengah maraknya sekolah berstandar internasional yang biayanya mencapai belasan juta rupiah tiap bulannya, para guru-guru di SD-SD “pinggiran” Jakarta ini harus berjuang keras untuk menumbuhkan kecintaan dan kesadaran akan pentingnya pendidikan, walaupun katanya sudah tidak ada lagi pungutan biaya untuk bersekolah di sini.

 

The Ending

photo 6

Sehari memberi inspirasi, yang ternyata malah kami yang memperoleh banyak inspirasi, sungguh membuka mata bahwa atas nama turun tangan untuk pendidikan anak-anak bangsa, semua perbedaan dan alasan akan terlepas dan sirna.

Jelang pulang, jemari-jemari mereka berebut menjabat tangan kami. Entah kenapa, hati kami menghangat. Menjadi guru tak semudah yang terbayangkan, tapi ada kebahagiaan yang luar biasa di dalamnya. Saat ada yang bertanya sambil menatap penuh harap, “Kakak akan datang lagi, kan?” Mendadak air mata menggenang di sudut mata.

Terima kasih untuk hari ini, ya. Terima kasih untuk saat yang berharga ini. Tahukah kamu? Kamulah yang menjadi guru kami sehari ini. Karena kamu, mengajarkan banyak hal pada kami. Karena kamu, buat kami merasa berarti.

 

Catatan:

Essay photo ini adalah tugas kelompok 22 untuk Kelas Inspirasi #3 jakarta, dan video berikut sedikit banyak menggambarkan apa yang terjadi selama setengah hari yang rusuh namun menyenangkan tempo hari. :)

Cake Smash

cake smash

Jadi ceritanya saya diminta tolong oleh sahabat saya, Andien, untuk memotret ulang tahun Nino yang pertama. Konsep yang diinginkan oleh Andien adalah cake smash. Awalnya saya tidak terlalu ngeh dengan konsep cake smash, namun setelah  googling sana sini dan mencari-cari foto sejenis di Pinterest, ternyata seru juga.

Dibantu oleh Prammu, inilah hasil beberapa foto-foto cake smash Nino. Menyenangkan sekali melihat reaksi bayi 1 tahun yang penasaran dengan kue ulang tahun.

Konsep cake smash ini memang literally mengacak-acak kue dan memang khusus ditujukan untuk ulang tahun pertama. It’s not an easy job. Tau sendiri kan bayi gampang sekali teralihkan perhatiannya. Di saat sedang asyik-asyiknya nyomot kue, tiba-tiba lihat ibunya berdiri, langsung merangkak gragas dengan kaki belepotan ke arah ibunya.

oh, but we had so  much fun!

 

One fine weekend

20140311-172921.jpg

Weekend bagi saya dan prammu artinya bangun lebih siang, leyeh-leyeh menonton serial tv, belanja ke pasar tradisional dekat rumah, memasak dan membaca buku-buku yang menumpuk di rak.

Di sela-sela weekend kami yang santai, saya beberapa kali menyelipkan rencana untuk menonton teater di Salihara/TIM, menonton konser gratisan di @america, pemutaran film di Goethe atau Erasmus atau mengunjungi museum, yang seringkali tetap berujung pada rencana. I blame rainy season for that laziness.

Saya lupa entah kapan tepatnya, di sela-sela weekend kami yang santai, agenda untuk menghabiskan setengah hari di blok m menjadi rutin. Sudah lama saya dan prammu berencana mencari dan mengunjungi toko-toko buku yang menjual buku bekas yang ada di jakarta dan sekitarnya. Setelah memutari kwitang, pasar senin, depok, stasiun pondok cina (yang kemudian digusur), blok m dan tempat-tempat lain, kami sampai pada kesimpulan bahwa tempat paling nyaman, murah, dekat, lengkap dan bisa sekaligus melakukan hal-hal lain adalah  di Blok M Square.

Sebagian besar toko buku yang ada di Blok M adalah relokasi dari kwitang dan pasar senin. Tidak hanya buku-buku dan komik bekas, buku-buku pelajaran dan novel-novel terbaru juga banyak dijual di sini. Namun, yang saya sayangkan, masih banyak yang menjual novel  dan buku bajakan. :(

Biasanya, saya dan prammu akan memisahkan diri dan bertemu 2-3 jam kemudian. Saya ke bagian komik dan novel bekas, dia ke bagian buku-buku bekas bersejarah.

Saya yang dari kecil memang menyukai membaca komik, namun tidak diperbolehkan membeli dan mengoleksi oleh ayah saya (sebagian besar alasannya adalah karena saat itu kami tidak punya cukup uang), seperti menemukan harta karun di sana. Harga 1 buah komik rata-rata 3 ribu – 30 ribu rupiah, tergantung kelangkaan dan kelengkapan komiknya.

Selain tempatnya nyaman karena full AC, satu hal lagi yang saya sukai adalah di sini sering diputar lagu-lagu jazz, soul, bahkan lagu-lagu rhoma irama dan lagu-lagu di era 70,80 dan 90-an dari toko-toko yang menjual piringan hitam, laser disc dan kaset-kaset lama. Selain itu juga, saya menemukan kafe kecil nyaman yang menjual green tea latte yang enak. Biasanya, saya yang lebih dulu selesai dan sembari menunggu prammu, nongkrong sambil membaca hasil perburuan saya dengan bahagia.

Oh, selain buku-buku dan piringan hitam serta kaset bekas, di Blok M square lantai basement ini juga ada toko antik, tukang jahit, toko herbal, toko gorden dsb. Di lantai atas juga ada toko pakaian, bioskop, carrefour, dvd bajakan, foodcourt dan masih banyak lagi.

Bagi saya dan prammu, seperti sekali mendayung, dua tiga pulau terlewati. We are happy. indeed.