Kelas Inspirasi #3 Jakarta

The beginning

Masih teringat pengalaman saya dan teman-teman sekelompok  ketika mendaftarkan diri untuk Kelas Inspirasi dan kemudian mendapat “tugas” berbagi inspirasi di SD Paseban 02 Pagi pada 24 April yang lalu. Sedikit hambatan koordinasi antara kepala sekolah dan para guru sempat kami temui, namun tidak menyurutkan semangat sedikitpun. Mulai dari banyaknya guru yang belum mengerti apa itu kelas inspirasi, hingga kepala sekolah yang pada saat survey hingga hari H kelas inspirasi belum juga berhasil kami lihat seperti apa wujudnya.

 

SD Paseban 02

photo 1

Setelah menembus jalur macet Manggarai-Pasar rumput-Salemba, akhirnya sampailah kami di Jalan Kramat Sawah yang letaknya persis di seberang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Toooooot! Suara nyaring kereta seolah menyapa kami saat berbelok menuju SD Paseban 02. Dari kejauhan tampak ibu penjual jamu yang saat ini sudah mulai jarang ditemui di tengah hiruk pikuk ibukota serta seorang ayah yang mengantar anaknya ke sekolah. Setelah melewati jalan yang cukup sempit dan ramai oleh pedagang kaki lima, kami tiba di depan SD Paseban 02.

photo 2

Riuh geliat aktivitas pagi hari tampak di sana-sini. Para orangtua yang mengantar buah hati, gelak tawa anak-anak yang membahas film semalam serta omelan abang tukang gorengan karena tim sepakbola kesayangannya kalah bertanding semalam.

 

Berbagi Sekolah

photo 3

Jam belajar dimulai pukul 06.30. Jam belajar yang lebih awal ini disebabkan karena keterbatasan ruang kelas. Kelas 1 dan 2 harus bergantian memakai sebuah ruang karena hanya ada 5 ruangan kelas. Tiba di gedung sekolah, kami langsung naik ke lantai 3. Gedung 3 lantai ini digunakan bersama dua sekolah lainnya yaitu SD Paseban 01 dan 03. Selain harus berbagi lantai, mereka juga harus berbagi lapangan sekolah yang luasnya tidak seberapa itu untuk upacara, olahraga dan kegiatan lainnya. Pada saat penutupan Kelas Inspirasi pun tidak semua murid berkumpul karena lapangannya tidak akan cukup menampung 3 sekolah sekaligus.

Pendidikan, penting?

photo 4

Perkenalkan, nama beliau bapak Muh. Yasap, mengajar mata pelajaran Agama Islam. Masih terngiang-ngiang curahan hatinya ketika kami berkunjung ke sana sebelum pelaksanaan Kelas Inspirasi.

“ Ketika ujian sekolah, kami para guru yang datang ke rumah-rumah untuk menjemput jika ada siswa yang tidak hadir, karena orang tuanya tidak peduli dengan pendidikan anaknya. Suatu waktu, ada anak yang masih tertidur dan orang tuanya yang mendiamkan ketika anaknya sulit untuk dibangunkan. Banyak dari orang tua siswa disini tukang cuci, sopir kopaja, pemulung dan tidak sedikit yang suka mabuk-mabukan dan bahkan memakai narkoba, yang masih belum mengerti pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya” ungkapnya jujur sembari tersenyum getir.

photo 5

Di tengah-tengah maraknya sekolah berstandar internasional yang biayanya mencapai belasan juta rupiah tiap bulannya, para guru-guru di SD-SD “pinggiran” Jakarta ini harus berjuang keras untuk menumbuhkan kecintaan dan kesadaran akan pentingnya pendidikan, walaupun katanya sudah tidak ada lagi pungutan biaya untuk bersekolah di sini.

 

The Ending

photo 6

Sehari memberi inspirasi, yang ternyata malah kami yang memperoleh banyak inspirasi, sungguh membuka mata bahwa atas nama turun tangan untuk pendidikan anak-anak bangsa, semua perbedaan dan alasan akan terlepas dan sirna.

Jelang pulang, jemari-jemari mereka berebut menjabat tangan kami. Entah kenapa, hati kami menghangat. Menjadi guru tak semudah yang terbayangkan, tapi ada kebahagiaan yang luar biasa di dalamnya. Saat ada yang bertanya sambil menatap penuh harap, “Kakak akan datang lagi, kan?” Mendadak air mata menggenang di sudut mata.

Terima kasih untuk hari ini, ya. Terima kasih untuk saat yang berharga ini. Tahukah kamu? Kamulah yang menjadi guru kami sehari ini. Karena kamu, mengajarkan banyak hal pada kami. Karena kamu, buat kami merasa berarti.

 

Catatan:

Essay photo ini adalah tugas kelompok 22 untuk Kelas Inspirasi #3 jakarta, dan video berikut sedikit banyak menggambarkan apa yang terjadi selama setengah hari yang rusuh namun menyenangkan tempo hari. :)

Advertisements

One fine weekend

20140311-172921.jpg

Weekend bagi saya dan prammu artinya bangun lebih siang, leyeh-leyeh menonton serial tv, belanja ke pasar tradisional dekat rumah, memasak dan membaca buku-buku yang menumpuk di rak.

Di sela-sela weekend kami yang santai, saya beberapa kali menyelipkan rencana untuk menonton teater di Salihara/TIM, menonton konser gratisan di @america, pemutaran film di Goethe atau Erasmus atau mengunjungi museum, yang seringkali tetap berujung pada rencana. I blame rainy season for that laziness.

Saya lupa entah kapan tepatnya, di sela-sela weekend kami yang santai, agenda untuk menghabiskan setengah hari di blok m menjadi rutin. Sudah lama saya dan prammu berencana mencari dan mengunjungi toko-toko buku yang menjual buku bekas yang ada di jakarta dan sekitarnya. Setelah memutari kwitang, pasar senin, depok, stasiun pondok cina (yang kemudian digusur), blok m dan tempat-tempat lain, kami sampai pada kesimpulan bahwa tempat paling nyaman, murah, dekat, lengkap dan bisa sekaligus melakukan hal-hal lain adalah  di Blok M Square.

Sebagian besar toko buku yang ada di Blok M adalah relokasi dari kwitang dan pasar senin. Tidak hanya buku-buku dan komik bekas, buku-buku pelajaran dan novel-novel terbaru juga banyak dijual di sini. Namun, yang saya sayangkan, masih banyak yang menjual novel  dan buku bajakan. :(

Biasanya, saya dan prammu akan memisahkan diri dan bertemu 2-3 jam kemudian. Saya ke bagian komik dan novel bekas, dia ke bagian buku-buku bekas bersejarah.

Saya yang dari kecil memang menyukai membaca komik, namun tidak diperbolehkan membeli dan mengoleksi oleh ayah saya (sebagian besar alasannya adalah karena saat itu kami tidak punya cukup uang), seperti menemukan harta karun di sana. Harga 1 buah komik rata-rata 3 ribu – 30 ribu rupiah, tergantung kelangkaan dan kelengkapan komiknya.

Selain tempatnya nyaman karena full AC, satu hal lagi yang saya sukai adalah di sini sering diputar lagu-lagu jazz, soul, bahkan lagu-lagu rhoma irama dan lagu-lagu di era 70,80 dan 90-an dari toko-toko yang menjual piringan hitam, laser disc dan kaset-kaset lama. Selain itu juga, saya menemukan kafe kecil nyaman yang menjual green tea latte yang enak. Biasanya, saya yang lebih dulu selesai dan sembari menunggu prammu, nongkrong sambil membaca hasil perburuan saya dengan bahagia.

Oh, selain buku-buku dan piringan hitam serta kaset bekas, di Blok M square lantai basement ini juga ada toko antik, tukang jahit, toko herbal, toko gorden dsb. Di lantai atas juga ada toko pakaian, bioskop, carrefour, dvd bajakan, foodcourt dan masih banyak lagi.

Bagi saya dan prammu, seperti sekali mendayung, dua tiga pulau terlewati. We are happy. indeed.

Muara Angke

Muara Angke adalah salah satu “gerbang” menuju Kepualauan Seribu. Destinasi wisata yang menjadi favorit warga jakarta dan sekitarnya akhir-akhir ini. Kenapa? Karena bisa dinikmati diwaktu weekend dan tidak harus bersusah payah mengusahakan cuti. Berangkat sabtu pagi, dan sudah tiba di jakarta lagi minggu sore.

Banyak agen yang meyediakan jasa tur ke kepulauan seribu : pulau tidung, pulau pramuka, pulau semak daun, dsb. Harganya bervariasi mulai dari 200 ribuan, tergantung banyaknya rombongan. Atau bisa juga tanpa tur, di pulau tidung dan pulau pramuka banyak yang menyediakan penyewaan alat-alat snorkling, sepeda, dan sewa perahu. Begitu juga dengan penginapan, banyak warga sekitar yang menjadikan rumah mereka menjadi penginapan.

Sebenarnya ada satu lagi akses menuju kepulauan seribu, lewat ancol, namun harganya tidak akan semurah dari muara angke.

Muara angke itu bau, itu kesan pertama saya. Pasar ikan dan pelabuhan dijadikan satu membuat semua bau bersatu padu. Belum lagi kebiasaan masyarakat yang menganggap laut dan sungai adalah tempat sampah. Selain itu, permukaan air laut di daerah sekitar muara angke lebih tinggi daripada permukaan tanah nya. Lengkaplah sudah.

Tapi dibalik itu, muara angke sangat menarik, i got some nice photos before i sailed to pramuka island. Enjoy!

. .

hello stranger,

.

sudah pukul lima. namun aku belum juga melihatmu dari balik jendela.  ini tidak seperti biasanya. tidak seperti pukul lima kemarin atau kemarin lusa. disaat aku mengamati jalanan rasuna said menjelang kendaraan akan berbaris nyaris tidak bergerak, ada kamu biasanya di sana. kadang menghisap rokok, seringkali hanya memandang jauh ke arah gedung-gedung tinggi di ujung sana.

aku seringkali bertanya-tanya apa yang ada dalam pikiranmu.

bos galak yang selalu memintamu mengerjakan segala? kekasih yang khawatir di negara tetangga? atau mungkin istri dan anak yang menunggu di rumah?

entahlah, di mataku kamu terlihat sendu setiap kali aku melihatmu berdiri di sana.

 

semoga kamu baik-baik saja. agar esok aku bisa diam-diam mengamatimu lagi. seperti biasanya.

 

happy holiday!

for those who are celebrating, may you have a wonderful christmas. i know this is kinda late. some of my friends even have no holiday today. :p

i took these pictures from Immanuel church. it is said that this church has one of the oldest orgel in Indonesia. it’s been there since 1910 or 1920.

semoga tidak ada lagi kekerasan mengatasnamakan agama

dan semoga semua umat beragama dapat menjalankan ibadah  dengan rasa aman

Ragunan

I always have a thing for the zoo.

Entahlah, ada sesuatu tentang kebun binatang yang menarik perhatian saya. Ketika dulu berkuliah di ITB, di seberang jalan adalah kebun binatang Bandung. Ramai luar biasa di saat akhir pekan, terutama hari libur nasional. Selama 4.5 tahun berkuliah, tiga kali saya main ke sana. Kali pertama adalah untuk survey tugas, kali kedua dan ketiga murni karena saya ingin. But i don’t wanna talk about kebun binatang Bandung now anyway.

Saya menginjakkan kaki di Ragunan 2 tahun silam, sekitar bulan Juli. Hal ini dengan jelas saya ingat karena saat itu saya sedang mengurus visa untuk ke Taiwan. Total 2 minggu luntang-lantung di Jakarta disela-sela pengurusan visa, akhirnya saya memutuskan ke ragunan, sendirian, dan bukan weekend. Agak-agak sedih sebenarnya, karena kebun binatang adalah salah satu tempat yang saya yakini untuk tidak dinikmati seorang diri. Heu

Menuju Ragunan ini juga mudah, tinggal naik Transjakarta sampai pemberhentian terakhir. Tiket masuknya pun murah, seingat saya dibawah 10ribu, dan yang paling saya suka adalah kita bisa menyewa sepeda di sini. Tidak perlu kaki bengkak untuk menjelajahi semua sudut. =p

Kondisinya sih cukup lumayan untuk ukuran kebun binatang Indonesia, but i believe we can do more than this.

Entah kenapa ekspresi gajah ini terlihat sedih di mata saya. huks

.

Belum bisa ke Lombok buat liat Komodo langsung, liat di Ragunan dulu buat survey juga lumayan. Haha

.

Ini dia sepeda yang saya sewa. Lupa berapa harganya, tapi sekitar 10 – 20 ribu perjam kalau tidak salah. Lumayan sekali untuk goes-goes muter Ragunan.

.

Agak di depan, ada kolam super gede dengan banyak sekali binatang ini. Ini bangau kan ya?

.

Ini juga entah kenapa ekspresinya terlihat sedih. =((

.

.

I really love zoo. Jika kelak nanti saya punya anak-anak, niscaya saya akan lebih sering membawa mereka ke sini ketimbang mall atau dufan.

 

Bank Mandiri Museum

.

.

One of must visit museum if you come to Jakarta. Located at Kota Tua area, take Trans Jakarta bus Harmoni – Kota direction. Stop at the very last stop.

You could see the history of bank  from colonial era which is quite interesting. It’s free of charge. =]