.

“Kamu tahu, Yosi? Salah satu saat paling menegangkan bagi laki-laki adalah ketika ia meminta izin kepada seorang ayah untuk menikahi anak perempuannya”,  ucapmu sore itu sembari menyeka keringat yang mengalir dari sela-sela rambutmu yang baru saja dicukur tiga hari yang lalu.

aku mengulum senyum, teringat whatsapp yang aku kirimkan tiga jam lalu saat kamu berjalan dengan kepala terangkat ke ruang kerja ayah.

“Mascar, kalau butuh back up ngadepin ayah, bilang ya. semangat!”

“Jadi gimana tadi? Lancar? Ayah bilang apa?” sahutku sambil mengalihkan perhatianmu dari tumpukan pempek di atas meja.

“Salah sendiri ga ikut pembicaraan paling penting abad ini. Malah cuma kirim whatsapp. Kamu pikir aku sempet liat-liat hp?” acuhmu sambil terus mengunyah pempek.

“Atuhlah car, jangan ngambek gitu. Masa depan bersama ini, jadi gimana?” cecarku sambil menjauhkan piring berisi pempek yang masih hangat.

“Hmm”

“Car! Serius ih”

“Yosi, selain tega sama pacar sendiri karena sudah membiarkan aku menghadap Ayah sendirian, ditambah tadi Ibu ikut dalam pembicaraan dan menambahkan wejangan ini itu, kamu ini ternyata ga sabaran ya”, ucapmu sambil mengambil pempek yang tadi aku jauhkan. “Sebentar ya, pacarmu ini butuh tenaga tambahan setelah memperjuangkan masa depan dengan ayahmu yang galak itu”

“Iya, iya, maaf ya tadi aku ga ikut kamu menghadap ayah, tapi maksudnya kan biar enak dan leluasa ngobrolnya”, aku beralasan.

“Aku pulang ke Indonesia for good sekitar bulan Juni atau Juli, urus ini -itu 3 – 4 bulan cukup kan ya? hmm, let’s say Oktober?” sahutmu sambil menahan senyum melihat reaksiku

 

Dan sore itu, mungkin adalah sore paling indah yang pernah ada.

 

Advertisements

hello stranger,

.

sudah pukul lima. namun aku belum juga melihatmu dari balik jendela.  ini tidak seperti biasanya. tidak seperti pukul lima kemarin atau kemarin lusa. disaat aku mengamati jalanan rasuna said menjelang kendaraan akan berbaris nyaris tidak bergerak, ada kamu biasanya di sana. kadang menghisap rokok, seringkali hanya memandang jauh ke arah gedung-gedung tinggi di ujung sana.

aku seringkali bertanya-tanya apa yang ada dalam pikiranmu.

bos galak yang selalu memintamu mengerjakan segala? kekasih yang khawatir di negara tetangga? atau mungkin istri dan anak yang menunggu di rumah?

entahlah, di mataku kamu terlihat sendu setiap kali aku melihatmu berdiri di sana.

 

semoga kamu baik-baik saja. agar esok aku bisa diam-diam mengamatimu lagi. seperti biasanya.

 

kencan impian

“Yosi, kamu boleh minta diajak kencan kemana saja, kecuali satu”,  katamu setelah kita resmi jadian 3 bulan.

“Kemana saja? Bahkan Afrika atau Rusia?”,  tanyaku setengah tidak percaya.

“Iya, kemana saja. Ke Alaska juga boleh jika kamu benar-benar ingin. Tapi kalau mau kesana, aku harus meminta putri bungsunya terlebih dahulu kepada ayahmu yang galak itu”,  jawabmu sambil menghindari cubitanku.

“Memang di mana kecuali satu itu?”,  aku bertanya sambil tetap berusaha mencubit perut kamu yang agak, ehem, buncit.

“D U F A N”,  balasmu cepat dan lantang.

Aku terdiam beberapa saat.

“Kamu kan tahu DUFAN itu termasuk ke dalam 5 tempat kencan impian aku! Jauh sebelum kita jadian, aku selalu cerita kalau nanti aku punya pacar, Dufan adalah tempat wajib untuk berkencan”,  protesku.

Kamu menunduk dan menghela nafas.

“Memang ada apa dengan Dufan sampai kamu tidak mau kita kencan di sana? Aku menuntut penjelasan sejelas jelasnya. Sekarang juga”,  tuntutku.

“Bukankah ada berjuta-juta tempat lain di wilayah Jabodetabek juga Bandung untuk kita datangi berdua? Taman mini misalnya, atau Kebun Raya Bogor. Atau Kwitang atau mungkin Tanjung Priok melihat kapal seperti yang Ayahmu sering lakukan ketika kamu masih ingusan dulu di pelabuhan Boom Baru Palembang?” ,  tanyamu balik.

“Ga! pokoknya, selain Planetarium dan Kebun Binatang, Dufan itu wajib!”, protesku tidak mau kalah, “Memangnya kenapa sih?  aku ingin naik bianglalanya bersama kamu”.

“Begini ya Yosi”,  jawabmu sambil menarik lenganku dan mengajakku duduk di sebelahmu,  “Pertama, kamu kan tahu kita cuma bisa ke sana Sabtu, Minggu atau hari libur, dan kamu juga tahu bagaimana hebohnya Dufan di kala akhir pekan dan liburan. Kedua, tiketnya mahal, sayang rasanya kalau sudah membayar semahal itu tetapi kita hanya bisa naik 3 atau 4 wahana. Ketiga, aku yakin kamu sudah pernah ke sana bersama teman-teman mainmu dan aku jamin itu pasti lebih seru dibanding pergi ke sana bersamaku. Keempat, aku sebenarnya takut ketinggian dan 70% wahana di Dufan pasti ada unsur ketinggian.”

Aku diam, mencoba meredakan emosi karena kemungkinan 1 dari 5 kencan impian akan gagal.

“Kamu bisa mengerti dan memaklumi aku kan, Yosi?”, tanyamu sambil menatapku dengan pandangan yang tidak mungkin tidak membuatku luluh.

“Kamu curang”, jawabku perlahan.

.

.

.

dan akhirnya, kita kesana. naik bianglala. berdua.

=]

.

someone like you

I heard that you’re settled down
That you found a girl and you’re married now.
I heard that your dreams came true.
Guess she gave you things I didn’t give to you.

Kamu kemana saja?

Aku menghapus air mata yang tanpa terasa turun perlahan di pipi. Kemudian tersenyum getir saat mengingat kejadian kemarin ketika tidak sengaja bertemu denganmu setelah, 5 tahun?  Untung aku duduk di kursi dekat jendela dan ini penerbangan malam.

Kamu terlihat bahagia. Dari kabar yang aku dengar selama ini kamu sudah menikah dan, BAHAGIA? dan mimpi kamu memiliki kantor desain interior sendiri juga tercapai?

Kamu yang selama ini selalu berkata bahwa dunia ini terlalu luas untuk tinggal dan menetap di suatu tempat?

Aku yakin dia perempuan luar biasa. Punya segala hal yang tidak bisa aku beri untukmu.

Old friend, why are you so shy?
Ain’t like you to hold back or hide from the lie.

Aku merinduimu tentu saja. Bagaimana hampir setiap malam-malamku penuh akanmu. Penuh akan kenangan-kenangan kita. Kamu yang selalu saja bisa membuatku tertawa. Kamu yang selalu punya cerita seru untuk dibagikan. Kamu yang selalu bercerita dengan mata berbinar tentang cita-citamu menaklukkan Amerika dan 5 benua. Kamu yang selalu ada bahkan saat kita belum bisa menulis dan membaca.

Aku merinduimu tentu saja.

I hate to turn up out of the blue uninvited
But I couldn’t stay away, I couldn’t fight it.
I had hoped you’d see my face and that you’d be reminded
That for me it isn’t over

Kamu mungkin melihat luka menganga lebar di mataku kemarin. Susah payah air mata kutahan sampai harus menggigit bibir keras keras dan berusaha tersenyum saat kamu memperkenalkan perempuan itu.

Apa yang ada diantara aku dan kamu belum berakhir, setidaknya bagiku.

Never mind, I’ll find someone like you

Tenang saja sayang, aku akan menemukan belahan jiwaku yang sepertimu. Tetapi sesungguhnya separuh jiwa ini sudah pergi bersamamu. Tenang saja sayang, aku akan berusaha untuk baik-baik saja tanpamu, seperti 5 tahun terakhir, saat kabar darimu hanya aku peroleh dari si A atau si B.

I wish nothing but the best for you too

Ada begitu banyak doa terlantun untukmu. Doa yang tidak pernah lupa aku panjatkan bahkan ketika hal-hal lain terlupa. Kamu selalu ada dalam setiap pengujung amin yang aku ucapkan.

Aku berdoa untukmu. Selalu. Tidak pernah terlupa.

Don’t forget me, I beg
“I’ll remember”, you said,

Jangan lupakan aku, bisikku saat kita berjabat tangan, mungkin untuk yang terakhir kalinya kemarin. Sebenarnya aku ingin memelukmu. Erat. Tapi aku khawatir aku tak akan rela melepasmu sesudahnya.

Jangan lupakan aku, bahkan di 20 atau 40 tahun yang akan datang. Jangan lupakan aku, bahkan ketika kamu sudah memiliki 8 cucu kesayangan.

Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead.

Kita pernah membicarakan tentang cinta dan cita di masa depan. Kita sering membicarakan masa depan kita berdua, bersama, dulu. Kamu sering bilang bahwa kamu ingin menginjakkan kaki di 5 benua sebelum berusia tiga puluh lima. Kamu ingin bertemu dan menyapa manusia dari berbagai sudut dunia. Kamu ingin tidur siang di setiap taman di semua negara bagian Amerika. Kamu ingin terbangun di Paris dan makan malam di Barcelona.

Ada aku di sana. Ada aku disetiap rencana-rencana yang kamu susun. Ada aku di masa depanmu. Dahulu.

*Langit, menuju Amsterdam, di atas negara entahlah.

 

– Adele, Someone like you

menginginimu

hai, apakabar?

sudah satu bulan lebih saya tidak memberimu kabar. bahkan untuk hanya sekedar mention di twitter atau tanda : dan ) di ym pun tidak ada. maaf. bukannya saya sombong atau lupa padamu (kamu tahu betapa saya tidak akan sanggup untuk itu) hanya saja saya sedang bertaruh dengan diri saya sendiri.

saya ingin membuktikan bahwa saya bisa tanpa kamu. hari-hari saya akan berjalan dengan sewajar dan semestinya tanpa obrolan bersamamu. hidup saya akan baik-baik saja tanpa perlu ada kamu di dalamnya. bilapun ada, cukuplah sewajarnya.

tidak perlu sampai membuat saya seperti kehabisan nafas tiap berada di dekatmu. tidak perlu membuat pipi saya merona setiap kamu menyebut nama saya. tidak perlu debur dada tidak wajar setiap kita berjumpa.

seperti setahun silam. saat obrolan diantara kita hanya sebatas hai dan senyum sopan di bibir. saat tidak ada sms selamat tidur, mimpi indah dan selamat pagi, bagaimana mimpimu semalam. saat bukan kamu yang terakhir ada di kepala ketika hendak memejamkan mata dan yang paling pertama ingin saya sapa ketika terbangun di pagi buta.

saya takut kecanduan akanmu.

takut menginginimu secara berlebih, menyimpan senyummu untuk saya sendiri. takut menginginkan tatapan teduh itu hanya untuk menatap saya saja.

.

sudah satu bulan.

dan saya tidak baik-baik saja.

saya menginginimu. teramat sangat.

.

demi ingatan yang  mulai pudar perlahan-lahan,

juga kenangan-kenangan yang ingin dilupakan.

“saya ingin lupa semua hal yang mengingatkan padamu”

 

tapi saya tahu benar bahkan waktu pun menjadi musuh.

 

siapapun yang bilang bahwa waktu menyembuhkan,  kita harus bertemu!

 

mengingatmu

Mengingatmu dengan detail adalah keahlianku.

Masih ingat kencan pertama kita empat tahun silam?

aku masih mengingat hari itu dengan sempurna.

polo-shirt hitammu, jam tangan swiss army yang kamu kenakan di lengan kanan, bekas cukuran kumismu yang mungkin baru berumur dua atau tiga hari, anak rambut yang menutupi sebagian keningmu, jeans hitam belel kesayanganmu, sepatu kets hitam lecek yang sudah menemanimu hampir 3 tahun dan baru kamu cuci 2 kali saja, harum parfummu, dan raut muka gugupmu saat mengetuk pintu kosanku.

sisa gerimis di jalan dago saat kita lewati, buku-buku yang aku beli di togamas, manisnya blueberry cizzcake, pedasnya tongseng di jalan pahlawan,

kerut di matamu ketika kamu tertawa, leluconmu yang bisa membuatku terbahak-bahak, usapan menenangkan di kepalaku

juga hangatnya genggaman tanganmu,

dan debaran jantung di dada yang seperti ingin berteriak keras-keras .

s e m u a n y a.

sepertinya aku mampu menuliskan seratus detail lainnya bila kamu minta.

.

Entahlah, kadang-kadang aku merasa terberkati. ketika rindu setengah mati, aku bisa menghadirkanmu di angan dengan mudah. aku hanya butuh memejamkan mata. sekejap kemudian kamu sudah ada memenuhi kepala. semudah itu saja.

sosokmu yang kelewat detail itu lalu tinggal lama sekali. ia tidak hanya berdiam, tapi terus berpendar-pendar. terkadang seperti lampu 5 watt, tetapi seringkali seperti lampu led 100 watt. membuat silau. membuat penuh. dan entah kenapa aku belum saja jenuh olehmu.

.

 

aku bilang bahwa aku terberkati karena mampu mengingatmu dengan detail?

 itu benar, jika saja kamu masih milikku. 

.