taking risk,

love, just like life, is about taking risk. love is a choice. you give all of your heart, or in so many cases, your everything to someone without any guarantee it will last till the rest of your life.

love, just like life, is about taking risk. to share all your darkest sins and your wildest dreams. to let someone stay in your heart and take all the space in it.

love, just like life, is about taking risk. to get out from your comfort and peaceful corner to the unpredictable bumpy future together.

love, just like life, is about taking risk. to let someone depends on you. to let your self become vulnerable without him/her.

 

love, just like life, is about taking risk.

 

will you?

Advertisements

dua.puluh.empat

berada di usia 24 untuk seorang wanita (Indonesia) pada umumnya  menurut saya adalah saat dimana alarm mulai mengambil ancang-ancang untuk berbunyi. nyaring.

“kapan kawin menikah?”

itu mungkin pertanyaan utama yang hadir hampir di setiap kepala wanita berusia 22 ke atas.  mengingat kondisi fisik yang memang sudah sangat matang untuk itu (ahaha) , wajar saja jika pertanyaan ini sering menghantui. belum lagi dengan (lebih) seringnya menerima undangan pernikahan dari teman teman – baik itu senior, seangkatan, bahkan junior! -, sungguh jadi membuat saya mau tidak mau akhirnya kepikiran juga.

“saya sih inginnya di umur 30 lebih dikit saya sudah melahirkan anak ketiga saya bu yos”

– lutfi, Jurnalis, dipengujung 23 tahun, belum menikah.

 

duh, saya juga ingin sekali begitu. maksimal di umur 32 saya tidak lagi dipusingkan dengan urusan ngidam, hamil, dan melahirkan. saya ingin punya 3 anak dengan jarak minimal 2 tahun. dengan asumsi bahwa di usia 32 saya sudah melahirkan anak bungsu saya, artinya saya seharusnya pertama hamil di usia 26! 2 tahun lagi! ya tuhan. sedangkan saya ingin nanti setelah menikah pacaran traveling  dulu setaun. yang artinya saya seharusnya menikah di usia 25. dan itu artinya taun depan! haha. sungguh sangat mengawang awang dan tidak down to earth sekali pikiran saya ini.

tapi, jodoh kan di tangan tuhan, ya walau buat ngedapetinnya harus kita ambil, ga diem aja. siapa tau tuhan membaca tulisan ini dan mengabulkan keinginan saya. amiiinnn. =)

 

“kalo kawinan nanti, bisa ga ya sederhana aja. mending duit buat resepsinya ditabung”

“buat apa?”

“honeymoon. traveling.”

“dasar”

” =)   =p “

never judge a book by its cover

Membaca one piece chapter 603 membuat saya teringat akan buku terakhir karya JK Rowling, Harry Potter and deathly hallows. Dimana ternyata Snape adalah pahlawan. Yang selama ini membantu Harry diam diam.

Lalu, begitu juga denga Bartholomew kuma, yang dengan kejamnya dua tahun lalu mencerai beraikan kru straw hat Luffy. Saya emosi sekali saat itu. Sama emosinya saat Snape membunuh Dumbledore di buku ke enam. Dan ternyata, lagi lagi saya kecele.  Thousand sunny tidak lecet dan tergores selama 2 tahun ditinggal penghuninya itu adalah jasa besar dari Kuma. Sebelum akhirnya ia diubah menjadi robot tanpa perasaan.

ok, cerita onepiecenya saya stop sampai sini saja sepertinya. maklumkan saya. too excited every time talking about onepiece. =p

jadi begitulah, seringkali kita salah dalam menilai orang. yang tadinya dipikiran kita jutek setengah mati ternyata malah orang paling ramah sedunia. yang tadinya kita anggap malaikat paling baik, ternyata menikam dari belakang. life it is.

.

“Judgements prevent us from seeing the good that lies beyond appearances.”

Wayne Dyer