di setiap penghujung hari

SONY DSC

Mungkin nantinya, yang paling saya inginkan di setiap penghujung hari adalah nyamannya pelukmu. Di saat kita mengucapkan selamat tinggal kepada hangatnya senja yang jingga berdua.

Mungkin nantinya, yang paling saya inginkan di setiap penghujung hari adalah mendengar lelucon dan derai tawamu. Meski sering kali saya butuh waktu untuk mengimbangi kecepatanmu bicara.

Mungkin nantinya, yang paling saya inginkan di setiap penghujung hari adalah tertidur di pangkuanmu. Kamu dengan buku-buku sejarahmu dan saya dengan berbagai komik serta novel romansa.

Mungkin nantinya, yang paling saya inginkan di setiap penghujung hari adalah berebut remote tv. Kamu yang ingin menonton klub sepak bola kesayangan, dan saya yang ingin menonton siaran asian food channel atau fox crime.

Mungkin nantinya, yang paling saya inginkan di setiap penghujung hari adalah melihatmu di dapur. Sambil mendengarmu berbual tentang lezatnya tempe penyetmu yang tiada duanya.

Mungkin nantinya, yang paling saya inginkan di setiap penghujung hari cukuplah kamu saja. Kita berdua.

Advertisements

setelah pukul 1 pagi

Dan saya bertanya – tanya, kapan terakhir  menulis tentangmu. Bukannya lupa, karena kamu tahu persis betapa dirimu sangat dirindukan. Dan ada kalanya saya tidak berhenti mengutuki jarak dan waktu yang membentang di antara kita. Yang mampu mengaburkan tawa dan menguapkan air mata. Saat keberadaanmu sangat dibutuhkan melebihi segala.

Lalu biasanya saya teringat teduhnya matamu, juga janji – janji di masa depan yang kita aminkan hampir setiap malam.

Untuk kamu, laki – laki paling  tangguh dan keras kepala yang pernah saya temui. Padamu pula saya belajar kesabaran dan kerja keras. Semoga kamu sehat dan bahagia selalu di sana. Selamat tidur. Sampai bertemu secepatnya.

.

“Kamu tahu, Yosi? Salah satu saat paling menegangkan bagi laki-laki adalah ketika ia meminta izin kepada seorang ayah untuk menikahi anak perempuannya”,  ucapmu sore itu sembari menyeka keringat yang mengalir dari sela-sela rambutmu yang baru saja dicukur tiga hari yang lalu.

aku mengulum senyum, teringat whatsapp yang aku kirimkan tiga jam lalu saat kamu berjalan dengan kepala terangkat ke ruang kerja ayah.

“Mascar, kalau butuh back up ngadepin ayah, bilang ya. semangat!”

“Jadi gimana tadi? Lancar? Ayah bilang apa?” sahutku sambil mengalihkan perhatianmu dari tumpukan pempek di atas meja.

“Salah sendiri ga ikut pembicaraan paling penting abad ini. Malah cuma kirim whatsapp. Kamu pikir aku sempet liat-liat hp?” acuhmu sambil terus mengunyah pempek.

“Atuhlah car, jangan ngambek gitu. Masa depan bersama ini, jadi gimana?” cecarku sambil menjauhkan piring berisi pempek yang masih hangat.

“Hmm”

“Car! Serius ih”

“Yosi, selain tega sama pacar sendiri karena sudah membiarkan aku menghadap Ayah sendirian, ditambah tadi Ibu ikut dalam pembicaraan dan menambahkan wejangan ini itu, kamu ini ternyata ga sabaran ya”, ucapmu sambil mengambil pempek yang tadi aku jauhkan. “Sebentar ya, pacarmu ini butuh tenaga tambahan setelah memperjuangkan masa depan dengan ayahmu yang galak itu”

“Iya, iya, maaf ya tadi aku ga ikut kamu menghadap ayah, tapi maksudnya kan biar enak dan leluasa ngobrolnya”, aku beralasan.

“Aku pulang ke Indonesia for good sekitar bulan Juni atau Juli, urus ini -itu 3 – 4 bulan cukup kan ya? hmm, let’s say Oktober?” sahutmu sambil menahan senyum melihat reaksiku

 

Dan sore itu, mungkin adalah sore paling indah yang pernah ada.

 

kencan impian

“Yosi, kamu boleh minta diajak kencan kemana saja, kecuali satu”,  katamu setelah kita resmi jadian 3 bulan.

“Kemana saja? Bahkan Afrika atau Rusia?”,  tanyaku setengah tidak percaya.

“Iya, kemana saja. Ke Alaska juga boleh jika kamu benar-benar ingin. Tapi kalau mau kesana, aku harus meminta putri bungsunya terlebih dahulu kepada ayahmu yang galak itu”,  jawabmu sambil menghindari cubitanku.

“Memang di mana kecuali satu itu?”,  aku bertanya sambil tetap berusaha mencubit perut kamu yang agak, ehem, buncit.

“D U F A N”,  balasmu cepat dan lantang.

Aku terdiam beberapa saat.

“Kamu kan tahu DUFAN itu termasuk ke dalam 5 tempat kencan impian aku! Jauh sebelum kita jadian, aku selalu cerita kalau nanti aku punya pacar, Dufan adalah tempat wajib untuk berkencan”,  protesku.

Kamu menunduk dan menghela nafas.

“Memang ada apa dengan Dufan sampai kamu tidak mau kita kencan di sana? Aku menuntut penjelasan sejelas jelasnya. Sekarang juga”,  tuntutku.

“Bukankah ada berjuta-juta tempat lain di wilayah Jabodetabek juga Bandung untuk kita datangi berdua? Taman mini misalnya, atau Kebun Raya Bogor. Atau Kwitang atau mungkin Tanjung Priok melihat kapal seperti yang Ayahmu sering lakukan ketika kamu masih ingusan dulu di pelabuhan Boom Baru Palembang?” ,  tanyamu balik.

“Ga! pokoknya, selain Planetarium dan Kebun Binatang, Dufan itu wajib!”, protesku tidak mau kalah, “Memangnya kenapa sih?  aku ingin naik bianglalanya bersama kamu”.

“Begini ya Yosi”,  jawabmu sambil menarik lenganku dan mengajakku duduk di sebelahmu,  “Pertama, kamu kan tahu kita cuma bisa ke sana Sabtu, Minggu atau hari libur, dan kamu juga tahu bagaimana hebohnya Dufan di kala akhir pekan dan liburan. Kedua, tiketnya mahal, sayang rasanya kalau sudah membayar semahal itu tetapi kita hanya bisa naik 3 atau 4 wahana. Ketiga, aku yakin kamu sudah pernah ke sana bersama teman-teman mainmu dan aku jamin itu pasti lebih seru dibanding pergi ke sana bersamaku. Keempat, aku sebenarnya takut ketinggian dan 70% wahana di Dufan pasti ada unsur ketinggian.”

Aku diam, mencoba meredakan emosi karena kemungkinan 1 dari 5 kencan impian akan gagal.

“Kamu bisa mengerti dan memaklumi aku kan, Yosi?”, tanyamu sambil menatapku dengan pandangan yang tidak mungkin tidak membuatku luluh.

“Kamu curang”, jawabku perlahan.

.

.

.

dan akhirnya, kita kesana. naik bianglala. berdua.

=]

.

wish list: snow at beach

Sebagaimana kebanyakan orang-orang yang tinggal di negara tropis lainnya, saya ingin sekali melihat dan memegang salju. Lebih spesifik lagi melihat salju yang turun di tepi pantai.  Menikmati butiran-butiran putih yang turun kemudian ditelan dan tersapu ombak.

Semenjak bersekolah (lagi) di Taiwan -yang merupakan negara (agak) subtropis-  saya langsung menuju gunung He Huan di musin dingin pertama. Diketinggian kurang lebih 3,400 meter dpl dan dengan suhu hampir minus empat derajat, percayalah, ternyata salju itu tidak seunyu bayangan saya. Kamu akan excited di jam-jam pertama. Setelah itu? yang kamu rasakan adalah beku di jari-jari kaki dan tangan.

Oh mungkin juga karena saya hanya mengenakan converse ijo belel walau sudah dilapis 3 kaos kaki, atau karena tidak sanggup menyewa kamar hotel yang mahal, jadinya menginap di shared room yang tidak ada heaternya. Malam itu mungkin adalah salah satu malam terpanjang selama hidup saya.

Saya sukses terjaga sepanjang malam karena menggigil kedinginan. Baju 3 lapis plus jaket micilin super tebal, topi kupluk, sleeping bag dan selimut tidak mampu mengusir dingin yang menusuk tulang. Saat itu saya berpikir tidak akan kembali lagi ke sini musim dingin tahun depan.

 

 

Tapi, melihat salju yang turun di tepi pantainya masih menjadi top wish list saya. Well, semoga malaikat mencatat dan Tuhan segera mengabulkan. Amin.

Eh, tentu saja kesananya bersama kamu. =]

.

picture from here