Kelas Inspirasi #3 Jakarta

The beginning

Masih teringat pengalaman saya dan teman-teman sekelompok  ketika mendaftarkan diri untuk Kelas Inspirasi dan kemudian mendapat “tugas” berbagi inspirasi di SD Paseban 02 Pagi pada 24 April yang lalu. Sedikit hambatan koordinasi antara kepala sekolah dan para guru sempat kami temui, namun tidak menyurutkan semangat sedikitpun. Mulai dari banyaknya guru yang belum mengerti apa itu kelas inspirasi, hingga kepala sekolah yang pada saat survey hingga hari H kelas inspirasi belum juga berhasil kami lihat seperti apa wujudnya.

 

SD Paseban 02

photo 1

Setelah menembus jalur macet Manggarai-Pasar rumput-Salemba, akhirnya sampailah kami di Jalan Kramat Sawah yang letaknya persis di seberang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Toooooot! Suara nyaring kereta seolah menyapa kami saat berbelok menuju SD Paseban 02. Dari kejauhan tampak ibu penjual jamu yang saat ini sudah mulai jarang ditemui di tengah hiruk pikuk ibukota serta seorang ayah yang mengantar anaknya ke sekolah. Setelah melewati jalan yang cukup sempit dan ramai oleh pedagang kaki lima, kami tiba di depan SD Paseban 02.

photo 2

Riuh geliat aktivitas pagi hari tampak di sana-sini. Para orangtua yang mengantar buah hati, gelak tawa anak-anak yang membahas film semalam serta omelan abang tukang gorengan karena tim sepakbola kesayangannya kalah bertanding semalam.

 

Berbagi Sekolah

photo 3

Jam belajar dimulai pukul 06.30. Jam belajar yang lebih awal ini disebabkan karena keterbatasan ruang kelas. Kelas 1 dan 2 harus bergantian memakai sebuah ruang karena hanya ada 5 ruangan kelas. Tiba di gedung sekolah, kami langsung naik ke lantai 3. Gedung 3 lantai ini digunakan bersama dua sekolah lainnya yaitu SD Paseban 01 dan 03. Selain harus berbagi lantai, mereka juga harus berbagi lapangan sekolah yang luasnya tidak seberapa itu untuk upacara, olahraga dan kegiatan lainnya. Pada saat penutupan Kelas Inspirasi pun tidak semua murid berkumpul karena lapangannya tidak akan cukup menampung 3 sekolah sekaligus.

Pendidikan, penting?

photo 4

Perkenalkan, nama beliau bapak Muh. Yasap, mengajar mata pelajaran Agama Islam. Masih terngiang-ngiang curahan hatinya ketika kami berkunjung ke sana sebelum pelaksanaan Kelas Inspirasi.

“ Ketika ujian sekolah, kami para guru yang datang ke rumah-rumah untuk menjemput jika ada siswa yang tidak hadir, karena orang tuanya tidak peduli dengan pendidikan anaknya. Suatu waktu, ada anak yang masih tertidur dan orang tuanya yang mendiamkan ketika anaknya sulit untuk dibangunkan. Banyak dari orang tua siswa disini tukang cuci, sopir kopaja, pemulung dan tidak sedikit yang suka mabuk-mabukan dan bahkan memakai narkoba, yang masih belum mengerti pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya” ungkapnya jujur sembari tersenyum getir.

photo 5

Di tengah-tengah maraknya sekolah berstandar internasional yang biayanya mencapai belasan juta rupiah tiap bulannya, para guru-guru di SD-SD “pinggiran” Jakarta ini harus berjuang keras untuk menumbuhkan kecintaan dan kesadaran akan pentingnya pendidikan, walaupun katanya sudah tidak ada lagi pungutan biaya untuk bersekolah di sini.

 

The Ending

photo 6

Sehari memberi inspirasi, yang ternyata malah kami yang memperoleh banyak inspirasi, sungguh membuka mata bahwa atas nama turun tangan untuk pendidikan anak-anak bangsa, semua perbedaan dan alasan akan terlepas dan sirna.

Jelang pulang, jemari-jemari mereka berebut menjabat tangan kami. Entah kenapa, hati kami menghangat. Menjadi guru tak semudah yang terbayangkan, tapi ada kebahagiaan yang luar biasa di dalamnya. Saat ada yang bertanya sambil menatap penuh harap, “Kakak akan datang lagi, kan?” Mendadak air mata menggenang di sudut mata.

Terima kasih untuk hari ini, ya. Terima kasih untuk saat yang berharga ini. Tahukah kamu? Kamulah yang menjadi guru kami sehari ini. Karena kamu, mengajarkan banyak hal pada kami. Karena kamu, buat kami merasa berarti.

 

Catatan:

Essay photo ini adalah tugas kelompok 22 untuk Kelas Inspirasi #3 jakarta, dan video berikut sedikit banyak menggambarkan apa yang terjadi selama setengah hari yang rusuh namun menyenangkan tempo hari. :)

One fine weekend

20140311-172921.jpg

Weekend bagi saya dan prammu artinya bangun lebih siang, leyeh-leyeh menonton serial tv, belanja ke pasar tradisional dekat rumah, memasak dan membaca buku-buku yang menumpuk di rak.

Di sela-sela weekend kami yang santai, saya beberapa kali menyelipkan rencana untuk menonton teater di Salihara/TIM, menonton konser gratisan di @america, pemutaran film di Goethe atau Erasmus atau mengunjungi museum, yang seringkali tetap berujung pada rencana. I blame rainy season for that laziness.

Saya lupa entah kapan tepatnya, di sela-sela weekend kami yang santai, agenda untuk menghabiskan setengah hari di blok m menjadi rutin. Sudah lama saya dan prammu berencana mencari dan mengunjungi toko-toko buku yang menjual buku bekas yang ada di jakarta dan sekitarnya. Setelah memutari kwitang, pasar senin, depok, stasiun pondok cina (yang kemudian digusur), blok m dan tempat-tempat lain, kami sampai pada kesimpulan bahwa tempat paling nyaman, murah, dekat, lengkap dan bisa sekaligus melakukan hal-hal lain adalah  di Blok M Square.

Sebagian besar toko buku yang ada di Blok M adalah relokasi dari kwitang dan pasar senin. Tidak hanya buku-buku dan komik bekas, buku-buku pelajaran dan novel-novel terbaru juga banyak dijual di sini. Namun, yang saya sayangkan, masih banyak yang menjual novel  dan buku bajakan. :(

Biasanya, saya dan prammu akan memisahkan diri dan bertemu 2-3 jam kemudian. Saya ke bagian komik dan novel bekas, dia ke bagian buku-buku bekas bersejarah.

Saya yang dari kecil memang menyukai membaca komik, namun tidak diperbolehkan membeli dan mengoleksi oleh ayah saya (sebagian besar alasannya adalah karena saat itu kami tidak punya cukup uang), seperti menemukan harta karun di sana. Harga 1 buah komik rata-rata 3 ribu – 30 ribu rupiah, tergantung kelangkaan dan kelengkapan komiknya.

Selain tempatnya nyaman karena full AC, satu hal lagi yang saya sukai adalah di sini sering diputar lagu-lagu jazz, soul, bahkan lagu-lagu rhoma irama dan lagu-lagu di era 70,80 dan 90-an dari toko-toko yang menjual piringan hitam, laser disc dan kaset-kaset lama. Selain itu juga, saya menemukan kafe kecil nyaman yang menjual green tea latte yang enak. Biasanya, saya yang lebih dulu selesai dan sembari menunggu prammu, nongkrong sambil membaca hasil perburuan saya dengan bahagia.

Oh, selain buku-buku dan piringan hitam serta kaset bekas, di Blok M square lantai basement ini juga ada toko antik, tukang jahit, toko herbal, toko gorden dsb. Di lantai atas juga ada toko pakaian, bioskop, carrefour, dvd bajakan, foodcourt dan masih banyak lagi.

Bagi saya dan prammu, seperti sekali mendayung, dua tiga pulau terlewati. We are happy. indeed.

Saya pilih turun tangan, ikut tanggung jawab

Agak sedikit terkejut ketika menerima email berikut dari Bapak Anies Baswedan, salah satu tokoh yang saya kagumi. Email ini terkait dengan kesediaan beliau mengikuti konvensi Partai Demokrat untuk menentukan calon presiden di 2014. Banyak yang skeptis, kecewa, dan mungkin marah akan keputusan beliau. Mengapa Partai demokrat? yang akhir-akhir ini banyak terkena masalah, terutama korupsi. Partai Demokrat, yang diantara kader-kadernya adalah Roy Suryo, Rohut Sitompul, Marzuki Alie dan Sutan Batoeghana (*menghela nafas)

Saya sendiri amat sangat menginginkan sosok seperti Bapak Anies yang memimpin negara ini. Sosok yang insya allah dapat mengembalikan citra politisi seperti sebagaimana mestinya. Politisi yang juga negarawan, yang dicintai dan dibanggakan rakyat.

Berikut adalah isi email beliau.

Assalamu’alaikum wr wb dan salam sejahtera.

Kepada Yth Badariah Yosiyana
Di tempat

Semoga email ini menemui teman-teman dalam keadaan sehat wal afiat dan makin produktif.

Saya menulis surat ini terkait dengan perkembangan baru yang datangnya amat cepat. Saya merasa perlu untuk mengirimkan surat ini secara pribadi karena selama ini kita telah bekerja bersama baik di Kelas Inspirasi atau Indonesia Menyala atau kegiatan lain sebagai bagian dari Gerakan Indonesia Mengajar. Selama ini kita telah sama-sama ikut aktif menata masa depan Indonesia tercinta. Ikhtiar ini, sekecil apapun kini, Insya Allah akan punya dampak yang besar di kemudian hari.

Beberapa waktu yang lalu, saya diundang untuk turut konvensi. Saya diundang bukan untuk jadi pengurus partai, tetapi untuk diseleksi dan dicalonkan dalam pemilihan presiden tahun depan. Saya semakin renungkan tentang bangsa kita, tentang negeri ini.

Para pendiri Republik ini adalah kaum terdidik yang tercerahkan, berintegritas, dan berkesempatan hidup nyaman tapi mereka pilih untuk berjuang. Mereka berjuang dengan menjunjung tinggi harga diri, sebagai politisi yang negarawan. Karena itu mereka jadi keteladanan yang menggerakkan, membuat semua siap turun tangan. Republik ini didirikan dan dipertahankan lewat gotong royong. Semua iuran untuk republik: iuran nyawa, tenaga, darah, harta dan segalanya. Mereka berjuang dengan cara terhormat karena itu mereka dapat kehormatan dalam catatan sejarah bangsa ini.

Kini makna “politik” dan “politisi” terdegradasi, bahkan sering menjadi bahan cemoohan. Tetapi di wilayah politik itulah berbagai urusan yang menyangkut negara dan bangsa ini diputuskan. Soal pangan, kesehatan, pertanian, pendidikan, perumahan, kesejahteraan dan sederet urusan rakyat lainnya yang diputuskan oleh negara. Amat banyak urusan yang kita titipkan pada negara untuk diputuskan.

Di tahun 2005, APBN kita baru sekitar 500-an triliun dan di tahun ini sudah lebih dari 1600 triliun. APBN kita lompat lebih dari tiga kali lipat dalam waktu kurang dari delapan tahun. Kemana uang iuran kita semua digunakan? Di tahun-tahun kedepan, negara ini akan mengelola uang iuran kita yang luar biasa banyaknya. Jika kita semua hanya bersedia jadi pembayar pajak yang baik, lalu siapa yang jadi pengambil keputusan atas iuran kita?

Begitu banyak urusan yang dibiayai atas IURAN kita dan atas NAMA kita semua. Ya, suka atau tidak, semua tindakan negara adalah atas nama kita semua, seluruh bangsa Indonesia. Haruskah kita semua membiarkan, hanya lipat tangan dan cuma urun angan?

Di negeri ini, lembaga dengan tata kelola yang baik dan taat pada prinsip good governance masih amat minoritas. Mari kita lihat dengan jujur di sekeliling kita. Terlalu banyak lembaga, institusi dan individu yang masih amat mudah melanggar etika dan hukum semudah melanggar rambu-rambu lalu lintas. Haruskah kita menunggu semua lembaga itu beres dan “bersih” baru ikut turun tangan?

Jika saya tidak diundang, maka saya terbebas dari tanggung-jawab untuk memilih. Tapi kenyataannya saya diundang walau tidak pernah mendaftar apalagi mengajukan diri. Dan saya menghargai Partai Demokrat karena -apapun tujuannya- faktanya partai ini jadi satu-satunya yang mengundang warga negara, warga non partisan. Di satu sisi, Partai Demokrat memang sedang banyak masalah dan persepsi publik juga amat rendah. Di sisi lain konvensi yang dilakukan oleh Partai Demokrat adalah mekanisme baik yang seharusnya juga ada di semua partai agar calon presiden ditentukan oleh rakyat juga.

Saya pilih untuk ikut mendorong tradisi konvensi agar partai jangan sekedar menjadi kendaraan bagi kepentingan elit partai yang sempit. Kini semua harus memperjuangkan agar konvensi yang dilaksanakan oleh Partai Demokrat ini akan terbuka, fair dan bisa diawasi publik. Saya percaya bahwa penyimpangan pada konvensi sama dengan pengurasan atas kepercayaan yang sedang menipis.

Undangan ini untuk ikut mengurusi negara yang kini sedang dihantam deretan masalah, yang hulunya adalah masalah integritas dan kepercayaan. Haruskah saya jawab, “mohon maaf saya tidak mau ikut mengurusi karena saya ingin semua bersih dulu, saya takut ini cuma akal-akalan. Saya ingin jaga citra, saya ingin jauh dari kontroversi, saya enggan dicurigai dan bisa tak populer?” Bukankah kita lelah lihat sikap tidak otentik, yang sekedar ingin populer tanpa memikirkan elemen tanggungjawab? Haruskah saya menghindar dan cari aman saja? Saya sungguh renungkan ini semua.

Saat peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agutus 2013 adalah hari-hari dimana saya harus ambil keputusan. Saat itu saya menghadiri upacara di Istana Merdeka, bukan karena saya pribadi diundang, tetapi undangan ditujukan pada ahli waris AR Baswedan, kakek kami, dan kami yang berada di Jakarta. Jadi saya dan istri hadir mewakili keluarga.

Seperti biasa bendera merah putih itu dinaikkan dengan khidmat diiringi gelora Indonesia Raya. Dahulu bendera itu naik lewat jutaan orang iuran nyawa, darah dan tenaga hingga akhirnya tegak berkibar untuk pertama kalinya. Menyaksikan bendera itu bergerak ke puncak dan berkibar dengan gagah, dada ini bergetar.

Sepanjang bendera itu dinaikkan, ingatan saya tertuju pada Alm. AR Baswedan dan para perintis kemerdekaan lainnya. Mereka hibahkan hidupnya untuk memperjuangkan agar Republik ini berdiri. Mereka berjuang “menaikkan” Sang Merah-Putih selama berpuluh tahun bukan sekedar dalam hitungan menit seperti saat upacara kini. Mereka tak pilih jalur nyaman dan aman. Mereka juga masih muda, namun tidak ada kata terlalu muda untuk turun tangan bagi bangsa. Berpikir ada yang terlalu muda, hanya akan membawa kita berpikir ada yang terlalu tua untuk turun tangan. Mereka adalah orang-orang yang mencintai bangsanya, melebihi cintanya pada dirinya.

Suatu ketika saya menerima sms dari salah satu putri Proklamator kita. Ia meneruskan sms berisi Sila-Sila dalam Pancasila yang dipelesetkan misalnya “Ketuhanan Yang Maha Esa” diubah jadi “keuangan yang maha kuasa” dan seterusnya. Lalu ia tuliskan, “Bung Anies, apa sudah separah ini bangsa kita? Kasihan kakekmu dan kasihan ayahku. Yang telah berjuang tanpa memikirkan diri sendiri, akan ‘gain’ apa.”

Kini, saat ditawarkan untuk ikut mengurusi negara maka haruskah saya tolak? sambil berkata, mohon maaf saya ingin di zona nyaman, saya ingin terus di jalur aman ditemani tepuk tangan? Haruskah sederetan peminat kursi presiden yang sudah menggelontorkan rupiah amat besar itu dibiarkan melenggang begitu saja? Sementara kita lihat tanda-tanda yang terang benderang, di sana-sini ada saja yang menguras uang negara jadi uang keluarga, jadi uang partai, atau jadi uang kelompoknya di saat terlalu banyak anak-anak bangsa yang tidak bisa melanjutkan sekolah, sebuah “jembatan” menuju kemandirian dan kesejahteraan. Pantaskah saya berkata pada orang tua, pada kakek-nenek kita, bahwa kita tidak mau ikut berproses untuk mengurus negara karena partai belum bersih? Haruskah kita menunggu semua partai beres dan “bersih” baru ikut turun tangan?

Saya pilih ikut ambil tanggung jawab tidak cuma jadi penonton. Bagi saya pilihannya jelas, mengutuk kegelapan ini atau ikut menyalakan lilin, menyalakan cahaya. Lipat tangan atau turun tangan. Saya pilih yang kedua, saya pilih menyalakan cahaya. Saya pilih turun tangan. Di tengah deretan masalah dan goncangan yang mengempiskan optimisme, kita harus pilih untuk terus hadir mendorong optimisme. Mendorong muncul dan terangnya harapan. Ya, mungkin akan dicurigai, bisa tidak populer bahkan bisa dikecam, karena di jalur ini kita sering menyaksikan keserakahan dengan mengatasnamakan rakyat.

Tapi sekali lagi ini soal rasa tanggung-jawab atas Indonesia kita. Ini bukan soal hitung-hitungan untung-rugi, bukan soal kalkulasi rute untuk menjangkau kursi, dan bukan soal siapa diuntungkan. Saya tidak mulai dengan bicara soal logistik atau pilih-pilih jalur, tetapi saya bicara soal potret bangsa kita dan soal tanggung-jawab kita. Tentang bagaimana semangat gerakan yang jadi pijar gelora untuk merdeka itu harus dinyalaterangkan lagi. Kita semua harus merasa turut memiliki atas masalah di bangsa ini.

Ini perjuangan, maka semua harus diusahakan, diperjuangkan bukan minta serba disiapkan. Tanggung-jawab kita adalah ikut berjuang -sekecil apapun- untuk memulihkan politik sebagai jalan untuk melakukan kebaikan, melakukan perubahan dan bukan sekedar mengejar kekuasaan. Kita harus lebih takut tentang pertanggungjawaban kita pada anak-cucu dan pada Tuhan soal pilihan kita hari ini: diam atau turun tangan. Para sejarawan kelak akan menulis soal pilihan ini.

Semangat ini melampaui urusan warna, bendera dan nama partai. Ini adalah semangat untuk ikut memastikan bahwa Republik ini adalah milik kita semua dan untuk kita semua, seperti kata Bung Karno saat pidato soal Pancasila 1 Juni 1945. Tugas kita kini adalah memastikan bahwa dimanapun anak bangsa dibesarkan, di perumahan nyaman, di kampung sesak-pengap tengah kota, atau di desa seterpencil apapun, ia punya peluang yang sama untuk merasakan kemakmuran, keterdidikan, kemandirian dan kebahagiaan sebagai anak Indonesia.

Saya tidak bawa cita-cita, saya mengemban misi. Cita-cita itu untuk diraih, misi itu untuk dilaksanakan. Semangat dan misi saya adalah ikut mengembalikan janji mulia pendirian Republik ini. Sekecil apapun itu, siap untuk terlibat demi melunasi tiap Janji Kemerdekaan. Janji yang dituliskan pada Pembukaan UUD 1945: melindungi, mencerdaskan, mensejahterakan dan jadi bagian dari dunia.

Kita semua sadar bahwa satu orang tidak bisa menyelesaikan seluruh masalah. Dan cara efektif untuk melanggengkan masalah adalah dengan kita semua hanya lipat tangan dan berharap ada satu orang terpilih jadi pemimpin lalu menyelesaikan seluruh masalah. Tantangan di negeri ini terlalu besar untuk diselesaikan oleh satu orang, tantangan ini harus diselesaikan lewat kerja kolosal. Jika tiap kita pilih turun tangan, siap berbuat maka perubahan akan bergulir.

Apalagi negeri ini sedang berubah. Tengok kondisi keluarga kita masing-masing. Negara ini telah memberi kita amat banyak. Sudah banyak saudara sebangsa yang padanya janji kemerdekaan itu telah terlunasi: sudah terlindungi, tersejahterakan, dan tercerdaskan. Tapi masih jauh lebih banyak saudara sebangsa yang pada mereka janji itu masih sebatas bacaan saat upacara, belum menjadi kenyataan hidup.

Di negeri ini masih ada terlalu banyak orang baik, masih amat besar kekuatan orang lurus di semua sektor. Saya temukan mereka saat berjalan ke berbagai tempat. Saat mendiskusikan undangan ini dengan anak-anak generasi baru Republik ini, saya bertemu dengan orang-orang baik yang pemberani, yang mencintai negerinya lebih dari cintanya pada citra dirinya, yang tak takut dikritik, dan selalu katakan siap turun tangan. Akankah kita yang sudah mendapatkan yang dijanjikan oleh Republik ini diam, tak mau tahu dan tak mau turun tangan? Pantaskah kita terus menerus melupakan -sambil tak minta maaf¬- pada saudara sebangsa yang masih jauh dari makmur dan terdidik?

Bersama teman segagasan, kami sedang membangun sebuah platform www.turuntangan.org untuk bertukar gagasan dan bergerak bersama. Ini bukan soal meraih kursi, ini soal kita turun tangan memastikan bahwa mereka yang kelak mengatasnamakan kita adalah orang-orang yang kesehariannya memperjuangkan perbaikan nasib kita, nasib seluruh bangsa.

Teman-teman juga punya pilihan yang sama. Lihat potret bangsa ini dan bisa pilih diam tak bergerak atau pilih untuk turut memiliki atas masalah lalu siap bergerak. Beranikan diri untuk bergerak, bangkitkan semangat untuk turun tangan, dan aktif gunakan hak untuk turut menentukan arah negara. Jalur ini bisa terjal dan penuh tantangan, bisa berhasil dan bisa gagal. Tapi nyali kita tidak ciut, dada kita penuh semangat karena kita telah luruskan niat, telah tegaskan sikap. Hari ini kita berkeringat tapi kelak butiran keringat itu jadi penumbuh rasa bangga pada anak-anak kita. Biar mereka bangga bahwa kita tidak tinggal diam dan tak ikut lakukan pembiaran, kita pilih turun tangan.

Saya mendiskusikan undangan ini dengan keluarga di rumah dan dengan Ibu dan Ayah di Jogja. Mereka mengikuti dari amat dekat urusan-urusan di negeri ini. Ayah menjawab, “Jalani dan hadapi. Hidup ini memang perjuangan, ada pertarungan dan ada risiko. Maju terus dan jalani dengan lurus.” Istri mengatakan, “yang penting tetap jaga nama baik, cuma itu yang kita punya buat anak-anak kita.” Ibu mengungkapkan ada rasa khawatir menyaksikan jalur ini tapi Ibu lalu katakan, “terus jalani dengan cara-cara benar. Saya titipkan anak saya ini bukan pada siapa-siapa, bukan kita yang akan jadi pelindungnya Anies. Saya titipkan anak saya pada Allah, biarkan Allah saja yang jadi pelindungnya.”

Itu jawaban mereka. Saya camkan amat dalam sambil berdoa, Insya Allah suatu saat saya bisa kembali ke mereka dan membuat mereka bersyukur bahwa kita ikut turun tangan, mau ikut ambil tanggung-jawab –sekecil apapun itu- untuk republik ini. Ini adalah sebuah jalur yang harus dijalani dengan ketulusan yaitu kesanggupan untuk tak terbang jika dipuji dan tak tumbang jika dikiritik. Bismillah, kita masuki proses ini dengan kepala tegak, Insya Allah terus jaga diri agar keluar dengan kepala tegak. Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah … bulatkan niat lalu berserah pada Sang Maha Kuasa.

Sebagai penutup, saya mengajak teman-teman untuk menengok video klip yang direkam dengan maksud sederhana untuk menyampaikan pertimbangan saya saat memutuskan untuk menerima tawaran ikut turun tangan dalam konvensi Partai Demokrat di link berikut ini: http://www.youtube.com/watch?v=7QNJqG0Fqf0

Semoga Allah SWT selalu meridloi perjalanan di jalur baru dari perjalanan yang sama ini dan semoga semakin banyak yang menyatakan siap untuk turun tangan bagi Republik tercinta ini.

Terima kasih dan salam hangat,

Anies Baswedan 

 

 

yang penting tetap jaga nama baik, cuma itu yang kita punya buat anak-anak kita

Eid Mubarak

Bersyukur sekali tahun ini kembali bisa merayakan lebaran di rumah bersama keluarga. Walau sudah lebih dari 9 tahun sejak saya memutuskan untuk tidak lagi tinggal di rumah (baik itu karena pendidikan dan sekarang pekerjaan), namun ketika lebaran, sebisa mungkin saya usahakan untuk pulang. Seingat saya, hanya satu kali saya absen, saat itu saya sedang kuliah di Taiwan dan di sana tidak ada liburan khusus lebaran.

.

Selamat merayakan lebaran bersama yang tersayang. Jangan lupa bersyukur karena masih diberikan kesempatan oleh Tuhan.

May we all have a happy and peaceful Eid. May God accept our good deeds, forgive our transgressions and most important, ease the suffering of all people around the globe.

Minal Aidin Walfa Idzin.

 

IMG_0627-1 IMG_0633-2

 

IMG_0640-3

it’s been 9 years

Sudah 9 tahun berlalu sejak kami semua pertama bertemu dan bersama-sama menempuh pendidikan di Teknik Lingkungan ITB. Yes, time flies, so fast. Walau penampilan kami tidak banyak berubah (tipikal anak ITB yang tidak hobi dandan), yang berubah hanyalah adanya gandengan baik itu istri/suami ataupun junior-junior yang lucu dan menggemaskan! Dari sekitar 107 orang dalam satu angkatan, yang tersisa di Jakarta dan berkesempatan hadir cuma seumprit ini.

Saya mengingat masa-masa kuliah sarjana saya di ITB dengan penuh sukacita. Well, selain masuk di kampus impian hampir semua anak Indonesia (halah), kuliah di ITB itu memang penuh warna. Bukan hanya dari segi akademis, we get a lot more than that.

It’s been 9 years, and yes, I still love you all so much.

DSC_0562-25

 

 

DSC_0568-28

 

DSC_0579-35

 

DSC_0570-30

 

TL 2004. Generasi penuh semangat. Dengan tekad yang kuat, cita – cita yang hebat, kami membangun bangsa.

di setiap penghujung hari

SONY DSC

Mungkin nantinya, yang paling saya inginkan di setiap penghujung hari adalah nyamannya pelukmu. Di saat kita mengucapkan selamat tinggal kepada hangatnya senja yang jingga berdua.

Mungkin nantinya, yang paling saya inginkan di setiap penghujung hari adalah mendengar lelucon dan derai tawamu. Meski sering kali saya butuh waktu untuk mengimbangi kecepatanmu bicara.

Mungkin nantinya, yang paling saya inginkan di setiap penghujung hari adalah tertidur di pangkuanmu. Kamu dengan buku-buku sejarahmu dan saya dengan berbagai komik serta novel romansa.

Mungkin nantinya, yang paling saya inginkan di setiap penghujung hari adalah berebut remote tv. Kamu yang ingin menonton klub sepak bola kesayangan, dan saya yang ingin menonton siaran asian food channel atau fox crime.

Mungkin nantinya, yang paling saya inginkan di setiap penghujung hari adalah melihatmu di dapur. Sambil mendengarmu berbual tentang lezatnya tempe penyetmu yang tiada duanya.

Mungkin nantinya, yang paling saya inginkan di setiap penghujung hari cukuplah kamu saja. Kita berdua.

setelah pukul 1 pagi

Dan saya bertanya – tanya, kapan terakhir  menulis tentangmu. Bukannya lupa, karena kamu tahu persis betapa dirimu sangat dirindukan. Dan ada kalanya saya tidak berhenti mengutuki jarak dan waktu yang membentang di antara kita. Yang mampu mengaburkan tawa dan menguapkan air mata. Saat keberadaanmu sangat dibutuhkan melebihi segala.

Lalu biasanya saya teringat teduhnya matamu, juga janji – janji di masa depan yang kita aminkan hampir setiap malam.

Untuk kamu, laki – laki paling  tangguh dan keras kepala yang pernah saya temui. Padamu pula saya belajar kesabaran dan kerja keras. Semoga kamu sehat dan bahagia selalu di sana. Selamat tidur. Sampai bertemu secepatnya.