Pad thai

.

.

Ini adalah makanan favorit saya selama menjelajahi Bangkok. Alasannya? Saya seorang muslim, jadi tidak bisa asal comot makanan begitu saja. haha.

Seingat saya, pad thai dan spring roll selalu menjadi prioritas utama dikala saya lapar. Dengan harga yang cukup murah untuk pad thai biasa (tanpa tambahan daging/seafood/telur) yaitu sekitar 25 bath (6rb IDR), benar-benar sahabat sejati untuk kantong saya yang pas-pasan. Selain murah, rasa pad thai sendiri ‘pas’ sekali di lidah saya yang Indonesia nian. 

Pad thai sendiri sebenarnya adalah bihun/mie goreng. Menurut saya sih tidak jauh rasanya. Dan penjualnya menyediakan sambal bangkok yang asam dan pedas, kacang, bubuk cabe juga acar sebagai pilihan topping.

Selain pad thai nya, jangan lewatkan meicip-icip spring roll nya yang nyummi. Well, rasanya hampir mirip dengan lumpia goreng sih sebenarnya. but hei, it’s made in bangkok. =]

Penjual pad thai ini mudah sekali ditemui di jalan-jalan, terutama ditempat-tempat wisata. Foto ini saya ambil di daerah Khaosan Road, surganya para backpacker kata orang-orang.

Oh i miss Bangkok so much.

.

satu hari (saja) di Bangkok (part 3 : End)

Setelah mendatangi Grand Palace, yang katanya daerah wajib kunjung nomor satu, saya hanya punya sisa waktu beberapa jam untuk mengunjungi tempat-tempat lain. Karena saya tidak terlalu suka kawasan belanja (mall) dan memang tidak ada niatan untuk berburu oleh-oleh (hihi), jadilah perjalanan dilanjutkan ke kuil-kuil (lagi) di sekitar Khaosan Road.

Berkali-kali sopir tuk-tuk menawarkan jasa untuk mengantar ke daerah perbelanjaan. Saran saya, hati-hati, karena bisa saja dia ‘menjebak’ anda untuk berbelanja. Sopir tuk-tuk disini seperti tukang becak di malioboro, mereka sedikit ‘memaksa’ kita ke tempat-tempat belanja, dimana nanti harganya justru akan bertambah mahal, karena pemilik toko harus memberikan ‘tip’ kepada mereka.

Maka pemberhentian berikutnya adalah Big Buddha! Patungnya memang benar-benar besar. Berwarna kuning, tapi saya yakin tidak terbuat dari emas. Wkwkwk. Hari itu benar-benar amat luar biasa panasnya. Dan di kuil tersebut sedang diadakan semacam acara, yang saya tidak begitu jelas apa. Maklum, efek buru-buru jadi aja asa ga maksimal. (Pesan moral : lain kali, jangan cuma satu hari main-main di Bangkok)

.

Ini dia ‘acara’ yang saya bilang. Hari itu banyak para biksu-biksu berkeliaran (apa emang setiap hari ya? Ga tau juga. haha) dan para jamaah yang ingin berdoa. Ada semacam uang sesajen (mungkin) yang dipajang. Maksud hati ingin mengambil, kan lumayan nambahin uang jajan.

Tidak terlalu banyak yang bisa dilihat di sini. Satu-satunya yang menarik tampaknya ya ‘cuma’ si Big Buddha. Setelah puas jeprat-jepret dan loncat kesana kemari, saya pun meninggalkan tempat ini menuju pemberhentian selanjutnya.

.

setelah mengendarai tuk tuk kurang lebih 15 menit, sampailah di kuil errrr, dooh! saya lupa namanya. Maafkan! Kuil ini sedang di renovasi, dan sebenarnya biasa saja. Tidak ada yang terlalu spesial, selain ada segerombolan burung yang mendekat jika kita memberi remah-remah roti. Selebihnya? Nothing special.

ini dia segerombolan burung-burungnya.

.

Tujuan terakhir adalah Golden Mountain Temple. Kenapa disebut mountain, karena untuk sampai ke temple nya, kita harus mendaki gunung lewati lembah seratusan anak tangga.

Siang itu  sungguh amat sangat luar biasa panasnya. Untung saja langit birunya tampan. Ketika mendaki kira-kira setangah perjalanan, saya merasa seperti berada di film dragon ball, saat dimana si goku belajar jurus baru untuk mengalahkan musuh terberat abad ini yang akan menghancurkan dunia (padahal saya lupa siapa nama musuhnya. heu).

Kenapa saya jadi ngalor ngidul gini ya?

.

Tapi, pemandangan dari atas kuil lumayan bagus separuh kita bangkok terlihat dari atas. Walaupun ga ada yang ngalahin pemandangan bandung dilihat dari Cimenyan!

.

Lalu, tibalah detik-detik terakhir saya di Bangkok. Saya masih punya waktu setengah jam hingga bus yang mengatar ke Bandara berangkat.

.

Ah ya, taksi di Bangkok benar-benar eye catching. warnanya pink gonjreng. wkwkwk. Dijamin bikin silau mata di siang hari.

.

Cukup sekian dan terimakasih. Sayang sekali saya cuma sehari saja di sini. Sebenarnya masih banyaaaak sekali tempat-tempat menarik di Bangkok.

.

.

Yoosh, dan saya bersiap untuk petualangan berikutnya. Phuket! Yay.

.

.

Pesan moral:

Jangan cuma SATU hari di Bangkok, apalagi kalau diisi dengan beristirahat di penginapan karena kelelahan.

Berhati-hati pada supir tuk tuk, jangan tertipu bujuk rayu mereka, apalagi kalau mereka sampai bilang Golden Palace tutup dan mengajak ke tempat belanja.

Harus ke Khaosan Road, apalagi bagi saya yang obsesi berbackpack, walaupun sebenarnya tidak ada yang terlalu spesial di sana. But you can really feel the backpack atmosphere there.

Book hostel via internet, dijamin lebih muraahh.

Dari bandara Svarnabhumi, jangan naik taksi menuju kota, muahal gila. Naiklah bus yang berada di lantai bawah. Kalau mau lebih jelas, cari informasi di visitor centre.

Harus ke semacam Pasar malamnya bangkok, where you can find ANYTHING to eat. Mulai dari kecoa, ulet, jangkrik, kelelawar, semua!

Apa lagi ya?

Well, HAVE FUN!

Satu hari (saja) di Bangkok (Part2: Grand Palace)

Bangkok, Khaosan Road, 7 jam sebelum penerbangan berikutnya menuju Phuket.

.

Ini yang saya lakukan untuk memaksimalkan sisa waktu yang saya punya di Bangkok : menyewa tuk tuk (bajaj nya bajuri) untuk mengantar saya berkeliling ‘tempat wajib kunjung’.  Setelah melewati tawar menawar yang cukup alot dan beberapa tuk tuk saya tinggalkan, akhirnya berhasil diperoleh kesepakatan, 250 bath untuk berkeliling 4 tempat wajib kunjung sekitar Khaosan Road. Saya berkali kali menekankan kepada si supir bahwa saya sudah harus sampai di penginapan pukul dua, dan dia menyanggupi. Saat itu baru pukul sepuluh pagi, yang artinya saya hanya punya waktu 4 jam saja untuk berkeliling.

.

sopir tuk tuk yang ramah

Dengan bahasa inggris pas pasan tapi untungnya tidak terjadi kesalahpahaman, kami berkomunikasi campuran antara bahasa tubuh dan bahasa tarzan. Menurut dia, daerah wajib kunjung nomor satu adalah Grand Palace atau dikenal juga dengan Golden Palace. Belum ke Bangkok kalau belum mendatangi Grand Palace. Dan saya setuju, sudah lama saya memang ingin melihat langsung kemegahan si Grand Palace ini sekaligus membandingkan dengan candi Prambanan dan Borobudur kita. Heu

.

the main gate

Saya diberi waktu satu jam di sini, dan ternyata Grand Palace itu dekat sekali dengan Khaosan Road. Berjalan kaki tidak sampai 15 menit mungkin. Begitu masuk kompleksnya, saya langsung terpesona. Benar benar megah dan terawat. Terlihat sekali pemerintah Thailand benar-benar memaksimalkan potensi untuk menarik para turis. Sebenarnya Borobudur dan Prambanan kita tidaklah kalah, hanya kurang perhatian dari pemerintah saja untuk memaksimalkan potensi yang ada.

Dan yang membuat saya terkejut adalah harga tiket masuknya. Kalau tidak salah sekitar 700 bath yang kalau dirupiahkan sekitar 210 rb. Tadinya saya sempat ragu dan hampir memutuskan untuk melihat lihat dari luar saja, maklum turis pas pasan, dan tidak terhitung di dalam budget perjalanan. Tetapi untunglah saya akhirnya memutuskan untuk masuk.

seharga 700 bath

.

Benar-benar worthed. Dijamin tidak akan menyesal membayar seharga 700 bath. Kuilnya benar benar megah, dengan ukiran-ukiran dan ornamen rumit.

golden palace

Dan disana saya bertemu dengan serombongan orang Indonesia yang sedang berlibur. Jadilah saya ikut rombongan mereka mendengarkan penjelasan dari pemandu wisata. Dari penjelasannya, dikatakan bahwa ada ukiran garuda dari Indonesia di Golden Palace ini. Jadi ikut bangga, Indonesia punya andil juga di sini.

.

Ornamen serta ukiran yang menghiasi sungguh membuat saya terpana. Tidak peduli dengan matahari yang bersinar galak dan baju yang sudah basah kuyup keringatan.

.

.

.

.

.

.

di depan gerbang istana raja

Penjaganya benar-benar jagoan. Tahan godaan. Dia benar-benar tidak bergerak, senyumnya pun tidak terlihat.

.

.

the weird tree

Pohon yang aneh sekaligus cantik

.

.

dan satu jam pun berlalu sudah. lebih malah.

saatnya melanjutkan petualangan.

.

.

to be continued

.

satu hari (saja) di Bangkok . . (part 1)

Jika kamu hanya punya waktu 24 jam di Bangkok dan sama sekali belum pernah mengunjungi kota ini, apa yang akan kamu lakukan?

Saran saya, jangan tidur. (ini seriues!)

.

.

Ketika akhirnya aplikasi beasiswa positif diterima di NCKU Taiwan, saya mulai mencari-cari tiket paling murah untuk kesana. Setelah cek sana – sini, didapat info untuk tiket one trip Jakarta-Taipei/Kaohsiung sekitar 350 USD. Bagi saya saat itu, angka tersebut terbilang mahal, sangat malah. Kemudian akhirnya saya memutuskan dengan nominal uang segitu, saya harus bisa mengunjungi paling tidak Malaysia dan Thailand, baru kemudian ke Taiwan.

Perburuan informasi pun dimulai. Sangat berterimakasih sekali atas jasa om google dan airasia serta lonelyplanet. Dari merekalah kemudian saya tahu bahwa Air Asia melayani penerbangan ke Taipei, tapi melalui Kuala Lumpur.

So, akhirnya setelah melakukan pertimbangan, konsultasi, penyelidikan dan berbagai usaha lainnya, saya memutuskan rute perjalanan saya adalah

Palembang-Kuala Lumpur-Taipei.

Untuk biaya penerbangan tersebut hanya 950 ribu rupiah saja. 250 rb untuk Palembang – Kuala Lumpur, lalu 700 ribu untuk Kuala Lumpur – Bangkok. Wew. Benar-benar harga yang fantastis.

Kemudian, saya mengajukan proposal kepada Ayah sang penyandang dana (huah, maafkan putri bungsumu ini yang masih saja merepotkan, Ayah).  Saya bilang, bagaimana kalau saya tetap meminta nominal 350 USD sebagai harga tiket, tetapi saya menggunakan airasia dan akan berpetualang dulu di Malaysia dan Thailand.

Dan alhamdulillah beliau mengizinkan, bahkan si Ibu tercinta juga tidak melarang. (Terima kasih Ayah dan Ibu untuk pengertian kalian yang sedalam lautan)

Jadilah, rute saya rombak habis-habisan

Rute lama : Palembang – Kuala lumpur – Taipei

Rute baru : Palembang – Kuala lumpur – Bangkok – Phuket – Kuala lumpur – Taipei.

Agak njlimet memang, karena penerbangan ke Taipei saat itu hanya melalui Kuala Lumpur (tapi sekarang Air Asia sudah melayani penerbangan Taipei – Bangkok kok).

Dan total biaya transportasi  dengan rute senjlimet itu ‘hanya’ sekitar 2juta lebih sedikit, yang jelas tidak lebih dari 2,5 juta. Jumlah yang membuat saya tidak bisa berhenti tersenyum. Berarti saya masih punya ‘sisa jatah’ 1,5 juta, yang bisa saya gunakan untuk biaya penginapan, makan dan biaya tak terduga lainnya.

Jadi begitulah, saya hanya punya waktu kurang lebih 24 jam di Bangkok untuk kemudian meneruskan perjalanan saya ke Phuket! (yap! that Phuket, tempat dimana si ganteng Leonardo Dicaprio syuting film The Beach!)

Sebagai informasi, penerbangan dari Kuala lumpur adalah sekitar pukul 11 siang, dimana saya hampir saja terlambat karena bangun kesiangan (heu) dan sampai di Bangkok pukul 12. Dan penerbangan saya ke Phuket pukul 3 sore keesokan harinya.

.

Bangkoknya di bawah

Saya yang sudah tidak sabar mendarat di Bangkok! Mencoba mengintip dan mengabadikannya dari ketinggian.

.

disambut mendung

Semacam tugu selamat datang, yang dekat sekali dengan Khaosan Road, tempat dimana saya menginap.

.

the famous Khaosan road

Konon katanya, Khaosan Road adalah pusatnya para backpacker di Bangkok. So, here i am, do not want to miss the feeling of the backpacker atmosphere in Khaosan road. Dan memang benar adanya, segala rupa manusia dari belahan dunia bisa kita sapa disini. Mulai dari yang bawa koper sampai ransel segede gaban. Yang membuat saya terkesan adalah banyak pasangan muda yang membawa anak mereka ikut merasakan serunya ber backpacker. Mengenalkan sedini mungkin spirit dari travelling mungkin. (Ah, semoga nanti setelah berkeluarga saya bisa mengenalkan spirit of travelling kepada anak-anak. Semoga jodoh saya seorang laki laki yang mimpinya setinggi awan dan hatinya seluas lautan yaTuhan. Dan semoga dia juga menyukai petualangan serta tantangan, dan juga pandai merayu dikala saya sedang pundungan.  Amiin).

Ah, yang membuat saya syok setengah mati adalah ketika saya melihat dua laki laki tampan nan gagah  seperti Vin diesel, menggendong tas carrier dan sungguh terlihat sangat macho. saya sudah senyum senyum sendiri melihat rezeki melimpah di depan mata. Tapi kemudian saya menyadari bahwa mereka bergandengan tangan. dan 2 menit kemudian, they are kissing each other, like nothing else matter in this world. Wew. What a waste. Laki-laki seganteng mereka. Apa stok wanita di negara mereka sudah begitu sedikit?

.

Ratchaworawiharin temple

Dan ini foto temple di dekat Khaosan Road yang saya kunjungi.

.

.

(to be continued)

.

delapan,

DSC01789

the grand palace, bangkok

tidak, tenang saja..

aku tidak seperti Roro Jongrang yang meminta syarat dibuatkan seribu candi dalam satu malam pada Bandung Bandawasa.

aku (cuma) minta dibuatkan satu temple seperti ini.

lengkap dengan tuan langit biru nan tampannya.

:D

.

..

tapi katanya,

kalau cinta bisa apa saja, bukankah?

.

.

aku hanya ingin kamu dan tiga anak kita,
dengan rumah mungil nan nyaman,
kalau (hanya)  itu,
bisa kan?

.

.

.

but all i need is you,
cause everything means nothing,
if i ain’t got you..

.

.

.