.

People might think other’s grass is greener. But for me, mine is, not necessarily greener, but definitely better.

– Yosi, yang sangat-sangat bersyukur atas nikmat Tuhan yang berhamburan

 

Advertisements

ramadhan mubarak!

Ini puasa tahun ketujuh  yang saya habiskan jauh dari rumah. Dua tahun terakhir malah saya habiskan dengan atmosfer tidak seperti bulan puasa. Muslim adalah minoritas di sini (Taiwan). Tidak seperti Taipei atau Kaohsiung, dimana masjid bisa dengan cukup mudah dijangkau, di Tainan, untuk mencapai masjid, saya harus bersepeda kurang lebih 45 menit dan melewati jalan berliku yang sampai sekarang masih tidak bisa saya ingat. I’m so so bad at direction and map.

Tahun lalu saya berkesempatan merasakan suasana puasa di Turki. Well, walaupun Turki adalah negara sekuler, namun hampir 99% penduduknya adalah muslim, walau tidak semuanya menjalankan puasa. Tapi atmosfer bulan ramadhan berhamburan di udara dan bisa dengan mudah saya hirup.

Yang teramat saya rindukan, selain keberadaan keluarga, adalah makanan pusaka yang selalu dimasak ibu di hari pertama puasa.

Sayur asem, empal daging, sambal terasi. (dengan mengingatnya saja ini mulut sudah berair. sluurp)

Sedang sahur pertama saya tadi malam diisi dengan mie instan. *sedih.

 

Well, mau bagaimana juga bulan ramadhan sudah datang! Selamat berpuasa! Semoga satu bulan ini penuh dengan berkah dan tidak kita lewatkan begitu saja. Amiinnn

berpindah

The worst part of being far away is you’ll start to miss moments with your friends and your family.

Saya tahu setiap manusia pasti ingin bergerak maju selama hidupnya. Jalan ditempat tentulah bukan pilihan bagi siapapun, termasuk saya.

Saya ingat begitu lulus SMA saya ingin sekali kuliah di pulau Jawa, ITB tepatnya dan alhamdulillah keinginan itu dikabulkan Tuhan. Jadilah saya jauh dari rumah sejak tahun 2004. Pulang ke rumah paling banyak 2 kali dalam satu tahun, lebaran dan libur semester genap.

Ada begitu banyak momen yang terlewatkan semasa saya jauh. Kelahiran keponakan, pernikahan teman-teman SMA, ulang tahun ayah-ibu-kakak-mbak, dan banyak lagi.

Sedih tentu saja. Bagaimana komunikasi dengan sahabat-sahabat tersayang di kala SMA mulai berkurang lalu satu persatu terlupakan perlahan-lahan.

Saya ingat setiap kali saya pulang ke rumah selalu ada perasaan sedih karena tertinggal begitu banyak momen. Semacam perasaan kosong muncul di hati.

Time and distance can kill your relationship, no matter how hard you try.

Kemudian hubungan-hubungan baru akan terbentuk. Menemukan teman baru, kekasih baru, tempat favorit baru, dan berbagai hal baru lainnya. Di saat yang baru-baru ini mulai nyaman dan mengakar di hati, lagi-lagi saya harus berpindah. Saya memilih meneruskan studi saya di Taiwan.

Saya tahu akan ada lebih banyak lagi momen-momen yang saya lewatkan dengan keputusan ini. Lebih banyak lagi pernikahan sahabat yang terlewatkan, ulang tahun keponakan bahkan lebaran.

 

 

Saya  pikir saya sudah terbiasa akan kehilangan momen-momen ini, dan ternyata saya salah.

 

you are the problems

Dear It’s-not-my-mistake-people,

If you have problems with 2 or 3 people, (you can say) they might be the problems. But when you have problems with (almost) every people, well, it’s time for you to see and realize yourself as the problems.

Sincerely, Do I need to buy you mirror?

.

(ur) eyelashes

Mau pake maskara merk apapun, dijepit berapa lama pun, bulu mata saya tidak akan lebih tebal dan lentik daripada bulu mata prammu. dan dia sadar benar akan hal ini dan seringkali mengolok-olok jika tahu saya memakai maskara. huh. semacam pacar yang sombong. dan semacam kenyataan pahit lagi menyedihkan. 

yah, semoga saja itu bulu mata turun hingga ke tujuh turunan. amin.

.