Eid Mubarak

Bersyukur sekali tahun ini kembali bisa merayakan lebaran di rumah bersama keluarga. Walau sudah lebih dari 9 tahun sejak saya memutuskan untuk tidak lagi tinggal di rumah (baik itu karena pendidikan dan sekarang pekerjaan), namun ketika lebaran, sebisa mungkin saya usahakan untuk pulang. Seingat saya, hanya satu kali saya absen, saat itu saya sedang kuliah di Taiwan dan di sana tidak ada liburan khusus lebaran.

.

Selamat merayakan lebaran bersama yang tersayang. Jangan lupa bersyukur karena masih diberikan kesempatan oleh Tuhan.

May we all have a happy and peaceful Eid. May God accept our good deeds, forgive our transgressions and most important, ease the suffering of all people around the globe.

Minal Aidin Walfa Idzin.

 

IMG_0627-1 IMG_0633-2

 

IMG_0640-3

Advertisements

like father (not) like son

.

like father (not) like son

.

kakak laki-laki saya nomor 2. ayah dari krucil #3. tapi yang sedang dipangkuannya itu krucil #4, anak pertama dari kakak perempuan nomor 3.

.

eid mubarak

.

greeting from us. =)

.

keluarga besar kami.

ayah sebagai laki-laki tertua dari tiga bersaudara, dan ibu sebagai perempuan tertua dari delapan bersaudara. foto ini diambil lebaran taun ini, dimana semua anggota keluarga berkumpul, minus nenek, almarhum om yoyok  dan beberapa tante dan om adik dari ibu yang tinggal di kediri.

tampaknya keluarga kami menganut paham banyak anak banyak rezeki. saya punya banyak sekali sepupu dan keponakan. =). kakak-kakak saya dengan suksesnya menjadikan saya tante dengan 5 orang keponakan lucu nan menggemaskan.

.

“Other things may change us, but we start and end with family”

Anthony brandt

krucil #3

.

krucil #3

my 3rd nephew. untung saja mukanya lebih banyak mirip mamanya. coba saja kalau lebih banyak mirip kakak laki-laki saya, outputnya tidak akan semenggemaskan ini. haha. (maaf ya, Yek)

Sebastian Ramadhan.

diambil dari pemain bola kesayangan papanya, sebastian schweinsteiger, dan ya, si krucil #3 ini lahir tepat di bulan ramadhan.

.

semoga jadi anak berbakti dan berguna  ya, le.

.

Children are the living messages we send to a time we will not see.  ~Neil Postman

krucil #1

.

si cantik pipi bakpao

.

keponakan pertama. cucu pertama. kesayangan semua orang. mukanya mirip sekali dengan ayahnya, kakak pertama saya. semua serba pertama. ia juga yang membuat mbah tutu mencair. =)

selalu bertanya, “Mbak Oci kapan pulang?”, semenjak saya menuntut ilmu jauh dari rumah, 6 tahun silam. dan yang paling sibuk jika saya pulang.

.

cuups!

sabar ya sayang, Juli kita bersenang-senang. :*

.

Laskar Wong Kito

Itu julukan bagi tim Sriwijaya FC kebanggaan masyarakat Palembang. Setiap pulang  di saat libur menjelang, saya tidak pernah melewatkan pertandingan Sriwijaya FC di stadion Jaka Baring. Bersama kakak nomor 2 saya dan 2 orang temannya, K Gun dan K Amor dan kadang-kadang Untski atau Cinto atau Adie disaat mereka juga sedang pulang, kami adalah pendukung yang selalu setia memberi semangat.

Dan entah bagaimana, setiap pertandingan yang saya tonton, Sriwijaya FC pasti keluar sebagai pemenang. Ah, mungkin karena saya bawa hoki lagi rezeki. Tapi serius, Sriwijaya FC tidak pernah kalah disaat saya ada disitu menonton dan memberi semangat secara live.

Yang saya suka, walaupun katanya orang Palembang itu galak lagi seram dan hobi berantem, tapi bagi saya yang dari lahir dan besar di Palembang, orang Palembang terlihat agak sedikit ramah di mata saya.

Menonton Sriwijaya FC bertanding diantara ratusan bahkan ribuan pendukung lain, saya merasa aman-aman saja. Paling yang membuat sebal adalah para laki-laki yang dengan tidak bertanggungjawabnya merokok dan meniupkan asap-asap beracunnya kemana-mana. Mungkin 8 dari 10 laki-laki yang menonton, merokok (belum teruji secara statistik sih, tapi yang saya tahu, kanan kiri depan belakang saya pasti ada saja asap rokok yang mengepul. Huks). Tidak pernah sekalipun terjadi baku hantam atau penonton yang kelewat anarkis. Pernah satu kali, ketika bertanding melawan klub mana gitu (lupa!), penontonnya ‘hanya’ melempari botol mineral kosong ke tengah lapangan. Tapi ya itu tadi, saya merasa aman-aman saja.

Hal ini berbeda sekali ketika suatu saat saya menonton pertandingan live Persib di Bandung. Ini juga karena kakak saya yang nomor 2 itu sedang main ke Bandung dan keukeuh pengen nonton Persib secara live. Dan kebetulan juga saat itu perayaan ulang tahun Persib ntah yang keberapa, dan ada bintang tamu Peter Pan (sekarang namanya apa ya?). Pokoknya hari itu ramai luar biasa, saya dan si kakak belum punya tiket di tangan. Jadilah kami korban para calo-calo beringas yang seenak jidatnya menaikkan harga sampai 3 kali lipat (di Palembang, harga tiket yang dijual calo sama saja dengan yang dijual di loket resmi, kalaupun lebih mahal, paling beda 5 ribu perak!). Dan yang membuat saya benar-benar kapok, stadion Persib sungguh jauh dari layak, dan lagi, kapasitasnya terlalu kecil untuk para bobotoh yang oh-my-God sungguh luar biasa semangatnya. Ada yang mabok, ber an*ing-an*ing ke semua orang dorong sana sini. Ya Tuhan, saya benar-benar kapok! Untung saja, sebelum keadaan diluar kendali, saya dan si kakak memutuskan angkat kaki bahkan sebelum pertandingan dimulai. Kami sudah ketar-ketir.

Pertandingan biasanya dimulai pukul 3  hingga 5 sore. Saya suka sekali ketika pertandingan hampir berakhir. Merayakan kemenangan Sriwijaya FC berlatar langit senja yang menjingga.

ah,  ini dia stadion kebanggaan wong kito. Ini saya ambil ketika Sriwijaya FC vs Persik Kediri (gitu?)

.

.

Dan ini biasanya suasana langit setelah pertandingan usai.

.

.

Yek, nanti kalau adek pulang, kita nonton lagi ya.

.

pesan Ayah

Saya ingat sekali bagaimana Ayah dulu pernah berpesan. Satu hari menjelang keberangkatan saya ke Bandung untuk menunaikan  wajib belajar 16 tahun, hampir 6 tahun yang lalu.

“Ingat selalu ya Dek, setiap akan melangkah keluar rumah, niatkan dalam hati. Semoga langkah hari ini diridhai Tuhan. Dan semoga ilmu yang didapat akan menjadi pembelajaran yang bermanfaat buat kamu, bangsa, agama juga dunia.”

(Cuma Ayah dan Ibu masih yang setia memanggil saya  dengan panggilan ‘Dek. Anggota rumah yang lain sudah terlalu nyaman memanggil saya dengan sebutan ‘Nek)

Saat itu saya hanya mengangguk pertanda iya, tanpa benar-benar memahami apa maksud Ayah sebenarnya. Maklum, hasrat remaja yang baru lulus SMA. Berkuliah di pulau seberang, belajar hidup mandiri tanpa ada yang cerewet jika pulang kemalaman merupakan petualangan yang sudah tidak sabar saya rasakan.

.

Saya sungguh beruntung memiliki kedua orang tua seperti mereka yang tidak pernah memaksa saya untuk masuk jurusan dan universitas tertentu. Seingat saya, Ayah dan Ibu tidak pernah menanyakan apakah saya kesulitan mengerjakan pr matematika atau fisika. Mungkin karena Ayah yang ‘hanya’ lulusan STM dan Ibu yang ‘cuma’ lulusan SD. Mereka pun tidak pernah cerewet menanyakan bagaimana nilai-nilai saya. Mereka hanya tersenyum bangga saat rapor dibagikan, karena hampir dipastikan saya selalu menjadi juara kelas bahkan satu sekolah, setidaknya sampai saya SMP, karena di jaman SMA ada begitu banyak orang yang lebih pintar di luaran sana.

Itu pelajaran berharga yang saya dapatkan.

Di atas langit, masih ada langit. Jangan lekas berpuas diri.

.

Semenjak memutuskan untuk kuliah jauh dari rumah, saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk mandiri. bukan dalam artian tidak akan meminta uang saku dari Ayah sama sekali, tetapi saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak meminta uang tambahan. Mau kerenya kayak apa di akhir bulan, saya tidak akan merengek untuk meminta uang jajan tambahan. Dan alhamdulillah, seingat saya, tidak pernah sekalipun saya merengek meminta uang jajan tambahan selama saya kuliah 4.5 tahun di Bandung. Jika Ayah berinisiatif untuk menambahkan uang jajan tanpa saya minta, itu tidak termasuk hitungan. =)

.

Dan pesan itu terus diulang-ulang oleh ayah, hingga saat ini saya masih (saja) di bangku kuliah, menunaikan wajib belajar 18 tahun di negeri seberang. Percakapan terakhir dengan Ayah terjadi 2 hari yang lalu. Seperti biasa hal pertama yang beliau tanyakan adalah kabar dan kemudian,

” Gimana, uangnya masih cukup?”

Mungkin dulu, pertanyaan itu cukup saya tunggu, dimana biasanya saya hanya akan menjawab,

“Tenang Yah, masih cukup ko. Tapi kalau mau ngirim, ya ga akan ditolak.”

Tapi sekarang, saya menjawab

” Tenang Yah, putri bungsumu ini sedang belanjar mandiri, termasuk secara finansial. sudah 23 umurnya, malu rasanya kalau masih harus meminta Ayah. Doakan saja semoga rezekinya lancar. Tenang, Adek tidak akan bertambah kurus disini”

Lalu Ayah hanya tertawa mendengarnya, sambil menyerahkan telepon ke Ibu. Dan seperti biasa pula, Ibu akan keukeuh

“Kalau kamu ingin dan butuh beli apa-apa, jangan sungkan bilang ke Ayah ya ‘Dek”

Kemudian percakapan akan berlanjut apakah saya sudah makan, makan dengan lauk apa, bagaimana kuliahnya dan kapan saya pulang. Untungnya, lagi-lagi, Ayah dan Ibu jaraaaang sekali bertanya soal kapan saya menikah (Hey, saya BARU 23!). Rupanya mereka masih khawatir putri bungsunya ini kelaparan di Taiwan.

Kemudian di akhir percakapan, Ayah (selalu) menyelipkan sederet pesan.

“Ingat selalu ya Dek, setiap akan melangkah keluar rumah, niatkan dalam hati. Semoga langkah hari ini diridhai Tuhan. Dan semoga ilmu yang didapat akan menjadi pembelajaran yang bermanfaat buat kamu, bangsa, agama juga dunia.”


.

Ayah sayang, sekarang saya mulai memahami pesan yang engkau berikan. Karena sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang berguna untuk sesama. Dan sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang dimanfaatkan, untuk manusia, negara, dunia juga agama. Doakan selalu putri bungsumu ini agar segera bermanfaat, dengan ilmu yang dipunya. Untuk sesama manusia, Indonesia tercinta, agama juga dunia. Dan saya selalu berdoa semoga kita selalu berbahagia.

maafkan belum bisa segera pulang.

tapi dirimu menjadi yang pertama terlantun dalam setiap doa.

karena saya mencintaimu. teramat sangat.

.