Desember

 

20131217-140716.jpg

 

Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi

Di balik awan hitam

Smoga ada yang menerangi sisi gelap ini, Menanti..

Seperti pelangi setia menunggu hujan reda

Aku selalu suka sehabis hujan di bulan desember, Di bulan desember

Sampai nanti ketika hujan tak lagi

Meneteskan duka meretas luka

Sampai hujan memulihkan luka

– Desember, Efek Rumah Kaca

Advertisements

after the rain

have i told u that i love rain this much?

[dan bukankah kencan pertama kita pun ditemani hujan?]

“apa yang membuatmu begitu menyukai hujan?”, tanyamu sore itu saat aku meminta ditemani membaui sisa hujan di sepanjang jalan Dago. =)

“hmm, salah satunya? ini . . .”

.

.

.

.

i love seeing skies on the ground as if i could touch or step on it.

i love seeing rain drops and play with it.

i love taking a long and deep breath, filling my lung with rain perfume

i love seeing u seeing me.

 

 

and now?

i hope i could find your face reflected on the ground.

seeing u seeing me. =]

 

hujan bulan Juni

.

the grey sky

.

the wet field

.

the rain drops

.

the wet ground

.

reflection

.

city light in the rain

.

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Sapardi Djoko Damono

hujan

Seharian ini saya dimanjakan dengan milyaran titik – titik air yang dijatuhkan dari langit.

“Hujan itu anugrah, Dek. Kamu harus senang saat ia datang. Sambut dengan senyum lebar dan mata berbinar”,

begitu Ibu sering bilang di sela rengekan saya yang ingin mandi hujan, di masa kecil saya.

.

Bunyi hujan itu seperti sihir.

Mampu membuat saya teringat pada hal – hal yang jauh sekali tertimbun dibelakang kepala, tanpa perlu bersusah payah. Kenangan yang ingin saya lupakan. Yang saya simpan rapat-rapat dalam kotak bergembok, yang kuncinya bahkan lupa saya letakkan di mana. Akan keputusan – keputusan yang saya ambil. Kesempatan yang (mungkin) saya lewatkan. Juga belokan jalan yang tidak saya pilih.

.

Aroma hujan itu seperti harum rambut Ibu sesudah keramas. Yang seringkali saya ciumi saat berada di dekatnya. Membuat saya tenang. Membuat saya ingin pulang.

Hujan membuat saya teringat Ibu.

Teringat Ayah,

Teringat kakak serta para keponakan.

Saya rindu rumah.

.

dan saya ingin kembali berumur 7 tahun. Saat dimana saya bisa bermain bebas dibawah hujan hanya dengan kaos dalam dan celana pendek, tanpa ada kekhawatiran atau rasa malu.

dan di sela rengekan saya, Ibu akan berkata

“Hujan itu anugrah, Dek. Kamu harus senang saat ia datang. Sambut dengan senyum lebar dan mata berbinar”,

.

.

Kemudian (tentu saja) kamu hadir di kepala,

“Hujan itu romantis, Yosi”, bisikmu di saat kita kehujanan di tepi jalan Dago empat tahun silam. Kita tertawa saat itu.

.

dan dari dormitory lantai 7, hanya langit abu-abu ini yang terlihat sepanjang hari.


.

.

bau hujan, rintik air di kaca jendela serta kamu di seberang sana

=)

.

On a perfect day
I know that I can count on you
When that’s not possible
Tell me, can you weather the storm
Cause I need somebody who will stand by me
Through the good times and bad times
She will always, always be right there

Sunny days, everybody loves them
Tell me
Can you stand the rain
Storms will come
This we know for sure
Can you stand the rain

(Boyz 2 men – can u stand the rain?)

after the rain,

.

If I could bottled the smell of the wet land after the rain.
I’d make it a perfume and send it to your house.
If one in a million stars suddenly will hit satellite.
I’ll pick some pieces, they’ll be on your way.

In a far land across.
You’re standing at the sea.
Then the wind blows the scent.
And that little star will there to guide me.

If only I could find my way to the ocean.
I’m already there with you.
If somewhere down the line.
We will never get to meet.
I’ll always wait for you after the rain.

(Aditya sofyan, after the rain)

.

.

satu

lima

sepuluh,

.

dan aku masih saja menghitung

tetesan gerimis yang memantul di jendela.

. . . . . .     .       .         .            .            .           . (sambil melamun tentu saja)

.

.

raindrops on the window

.

bukankah kamu juga lelaki pencinta hujan?

masihkah?

.

ah, belum waktunya si payung biru dibuka lebar,

dan aku kita memang masih harus bersabar.

.

.

.

If somewhere down the line.
We will never get to meet.
I’ll always wait for you after the rain.

.

.

dance in the rain,


.

.

‘ bandung akhir akhir ini hujan terus, bu’,

‘jadi susah mau kemana mana, harus pake ponco, apalagi kalau jalanan sampai tergenang. nyiprat kemana mana. kotor. belum lagi dinginnya.’, omelnya

.

.

dan aku hanya tersenyum.

.

.

sudah hampir terlupa,

bahwasanya dulu saya juga sering mengeluh pada langit yang menjatuhkan tetesan air ke tanah.

entah kapan berhenti melakukannya.

‘langit sudah amat rindu dengan bumi, itu sebabnya ia mengirimkan tetesan hujan untuk menyapa’

.

mencoba mengerti,

apa yang hendak langit sampaikan.

.

.

dan kini aku tersenyum saat hujan.

bukankah hujan itu romantis?

kamu tahu bahwa bau saat titik titik air mulai menyentuh tanah adalah parfum paling enak sedunia?

.

.

mari tersenyum bersama saat langit menurunkan hujan,

ia sedang bercerita dengan sang bumi,

coba diam sebentar,

mungkin kita bisa ikut mendengar cerita mereka.

.

.

or you could dance in the rain with the yellow umbrella?

.

.


“Anyone who says sunshine brings happiness has never danced in the rain”