changing night,
November 28, 2009
malam ini saya nobatkan menjadi ‘the changing night bu!”
pernyataan ini dikeluarkan oleh unstki setelah saya bombardir (padahal cuma dua) dengan video dari Dr. Randy Pausch dan Pranav mistry.
(sorry, lebay is my middle name)
(alm) Dr. Randy Pausch adalah seorang dosen di carnegie-mellon univ. beliau divonis kanker prankeas dan hanya punya waktu kurang lebih satu tahun lagi.
alih alih bersedih dan frustasi, beliau banyak memberi inspirasi pada banyak orang, yang dikenal dengan ‘the last lecture’.
video di atas adalah salah satu diantaranya. beliau diundang ke Oprah show, dan memberikan ‘the last lecture’ disana.
pertama kali saya tahu video ini dari prammu, kemudian sore ini saya dikasih lihat lagi sama mas tsul, dan akhirnya saya kasih lihat ke untski. (semoga untski juga membagi video ini, ke siapa saja, agar kita tetap diingatkan untuk bermimpi dan berusaha meraihnya)
yang mebuat saya benar benar terkesan adalah kata kata beliau. semua yang ada di speechnya adalah favorit quote saya. dan juga bagaimana semangatnya untuk tetap menikmati hidup dan have fun with your life.
“this is not about death, this is about life and how to live. especially about your childhood dreams. and about how can you achieve them”
“anything is possible and we should never loose that spirit”
“if you don’t achieve your dream, you can still got a lot by trying for”
“experience is what you get when you don’t get what you want”
“the brick walls are there for a reason: they let us prove how badly we want things”
.
.
so, dream! big dreams. and don’t give up on them. no matter how hard the ways are. because it feels so great when you can achieve them. and don’t forget to have fun with your life. you do what you love.
Ps:
ulasan tentang pranav mistry, di postingan berikutnya. benar benar mengantuk dan ingin menerapkan pola hidup sehat.
memori,
November 21, 2009
seperti pencuri,
yang tanpa permisi.
.
.
memori,
kau membuka luka lama yang kuingin lupa.
(vina panduwinata)
dance in the rain,
November 20, 2009
.
.
‘ bandung akhir akhir ini hujan terus, bu’,
‘jadi susah mau kemana mana, harus pake ponco, apalagi kalau jalanan sampai tergenang. nyiprat kemana mana. kotor. belum lagi dinginnya.’, omelnya
.
.
dan aku hanya tersenyum.
.
.
sudah hampir terlupa,
bahwasanya dulu saya juga sering mengeluh pada langit yang menjatuhkan tetesan air ke tanah.
entah kapan berhenti melakukannya.
‘langit sudah amat rindu dengan bumi, itu sebabnya ia mengirimkan tetesan hujan untuk menyapa’
.
mencoba mengerti,
apa yang hendak langit sampaikan.
.
.
dan kini aku tersenyum saat hujan.
bukankah hujan itu romantis?
kamu tahu bahwa bau saat titik titik air mulai menyentuh tanah adalah parfum paling enak sedunia?
.
.
mari tersenyum bersama saat langit menurunkan hujan,
ia sedang bercerita dengan sang bumi,
coba diam sebentar,
mungkin kita bisa ikut mendengar cerita mereka.
.
.
or you could dance in the rain with the yellow umbrella?
.
.
“Anyone who says sunshine brings happiness has never danced in the rain”
micilin accomplished!
November 19, 2009
begitu summer sudah hampir di penghujung jalan, semua senior dan teman teman lab sudah mewanti wanti untuk membeli jaket tebal aka micilin. bagi yang belum tau apa itu micilin? jujur saja, pertama mendengar saya juga mengerutkan kening dan memutar otak mencari gambar yang bernama micilin (halah). ternyata eh ternyata, micilin itu adalah jaket tebal berbahan biasanya parasut dan bisanya juga ada bulu2 di bagian kapucon nya (baca: topi).
selidik punya selidik, kenapa dinamakan micilin? setelah hasil bertanya kesana kemari, nama micilin di ambil dari michelin. siapa itu michelin,kata om wiki
Michelin (full name: SCA Compagnie Générale des Établissements Michelin) (Euronext: ML) based in Clermont-Ferrand in the Auvergne région of France, is primarily a tire manufacturer, currently either the world’s second-largest or the largest.
yah, kalo ada yang masih penasaran pisan, bisa ber wiki ing atau googling sendiri, karena saya rasa sudah jauh menyimpang dari topik di atas. heu.
begitulah, karena bentuk dan penampakan jaket super tebal ini konon menyerupai bentuk si maskot michelin. bergelombang.
jadii, setelah musim dingin berangin datang kurang lebih dua minggu. persediaan jaket yang saya bawa dari Indonesia sudah tidak lagi mencukupi menghadang si angin yang dinginnya keterlaluan. sampai akhirnya sore ini, saya, yovita, warisa dan 4 orang teman Taiwanese memutuskan untuk berbelanja! ke pusat gaulnya anak gaul Tainan. Shin Kong and Mitsukoshi Department store. begitu sampai di sana, pengunjung yang lain pada gaya gaya semua. heuu. di lantai pertama disambut dengan ‘luxuriuos international boutiques’ weew. mulai dari celine, fendi, louis vuitton, bvlgari dan sebangsanya dan sebagainya. dengan rasa pede selangit, kita msuk ke butik2 itu. kapan lagi bisa santai kayak dipantai gini? jangan harap di mall jakarta bisa seenaknya megang2 kalo ga mau dipelototin mbak2 yang jaga. heu.
cukup puas hanya dengan pegang sini pegang sana. jangan tanya harganya. harga dompet saja setara dengan 3 bulan beasiswa. heuu
begitulah, kesimpulan yang didapat, semakin tinggi lantai, semakin murah harganya. setelah hampir putus asa mencari cari yang sesuai kantong mahasiswa berbeasiswa pas pasan seperti kami, akhirnya kami menemukannya di lantai enam! (perlu dicatat bahwa budget yang tersedia adalah tidak boleh lebih dari seribu lima ratus NT, orang si sobid (sepeda tersayang) saja harganya cuma seribu dua ratus, masa untuk sebuah micilin saja sampai segitunya? saya sungguh tidak rela!)
oia, hari ini itu ada diskon besar-besaran di sana (alasan utama kami memberanikan diri berbelanja!), departemen store b’day ceunah. keadaan di lapangan sungguh amat sangat ramai. pernah menonton film shinchan? dimana ada kalanya si misae dengan semangat empat puluh lima sodok sana sodok sini dengan ibu2 lainnya buat dapetin barang2 murah berdiskon?
naaahh, ini sama persis kondisinya. soo crowded! rame pisan sama orang2 yang berebut jaket micilin seribuan. termasuk saya dan yovita diantaranya. heuu.
but it’s worthed!
jaketnya kece, dengan bulu2, biar kerasa pisan winternya. heu.. langsung di fit and proper test. ternyata beneran hangat! mau angin segede apa juga, badannya tetap hangat!
.
.
.
target: micilin
status : accomplished!
yay!
the sunset beach,
November 18, 2009
.
suatu sore di hari raya,
piknik ke pantai paling indah se Tainan, katanya.
pantai Anping namanya.
setengah jam dari Tainan city menggunakan free bus dari depan stasiun.
.
dan langitnya memang tampan,
warnanya biru sekali,
dengan sedikit awan.
.
.
dan aku masih terbata bata serta bersusah payah untuk bisa membaca karakter yang bentuknya sungguh rumit itu.
.
disini capungnya berwarna warni,
.
.
cemilan kesukaan.
cumi cuminya sungguh menggoda.
dibakar dengan bumbu rahasia, ditambah taburan sedikit wijen di atasnya.
.
.
kemudian, si bintang utama,
sayang sekali saat itu tuan matahari membatalkan kencan tiba tiba sebelum bertemu laut.
.
.
.
tapi masih indah pantai di negeri kita,
yang pernah kamu ceritakan,
pasirnya putih, lautnya biru kehijauan, dan langitnya paling biru.
“kalau kesana lagi aku diajak.
ya?“
gerimis sore itu,
November 14, 2009
bandung, 9 september 2007
sore itu kita berjanji berjumpa. di tempat biasa. setelah sekitar enam bulan kamu lenyap begitu saja. tanpa kabar berita. kita memang satu kampus. tapi melihatmu saja aku tidak pernah. jangankan untuk bercerita. kesempatan untuk menyapa saja hampir tidak ada. dan pukul sepuluh tadi ada sms yang sampai. dari kamu. akhirnya.
‘bisa kita bertemu sore ini pukul tiga? di tempat biasa. bercerita. ya?’
seperti sms-sms mu yang lalu. tidak pernah memaksimalkan kuota 160 karakter yang disediakan. kita memang bagai langit dan bumi soal ini.
sore itu hujan gerimis. rinainya tipis. aku bisa melihat butir butir air yang dicurahkan dari langit. cantik. aku selalu suka hujan. dan bukankah kamu juga lelaki pencinta hujan?
aku menunggumu ditemani bala bantuan penuh. novel dan headset di telinga. ini sudah pukul lima. tapi kamu belum terlihat juga. sudah dua gelas coklat panas yang aku habiskan, duapuluh halaman buku ‘the autobiography of my mother nya jamaica kincaid’ dan satu putaran playlist di telepon genggam.
‘kamu kemana? bukankah kita berjanji bertemu pukul tiga?’
.
maka maafkan aku jika berharap terlalu banyak. ada begitu banyak cerita yang ingin aku sampaikan dan leih banyak lagi yang ingin aku dengarkan.
tik,
tik,
harmoni suara si gerimis genit mengetuk ngetuk kaca jendela dan jarum jam terdengar seperti tawa ejekan.
.
dan ternyata,
kamu tidak datang hingga senja menjelang. sampai aku memutuskan untuk menyerah dan pulang.
.
.
.
.
mungkin saat itu kamu sedang terjebak rapat mendadak di himpunan dan telepon kamu kehabisan baterai. atau tiba tiba saat itu kamu diminta dosen untuk mengawas ujian sampai tidak sempat mengabarkan. entahlah. aku tidak pernah tahu apa alasanmu sore itu.
.
dan kamu baru meminta maaf dua hari kemudian.
are you there?
November 10, 2009
I'm dreaming you're out in the blue and I am right beside you Awake to take in the viewAre you there? Or are you just a decoy dream in my head?
owl city
kamu kemana?
November 9, 2009
hari ini aku tidak menemukanmu,
tidak saat pagi menyapa,
sia-sia dibawah langit biru,
tidak juga di merah senja.
.
.
kamu bersembunyi dimana?
cepat pulang. tolong.
selamat malam,
November 6, 2009

the melting light
dari pinggir jendela di ruang laboratorium lantai empat,
mengintip sederet cahaya di luar yang terpantul,
kuning.
merah.
putih.
biru?
.
.
susah payah mencoba
mencari tanda tanda kehadiranmu diantaranya.
sia sia?
.
selamat pukul tujuh di jumat malam yang tenang.
.
.
kamu apa kabar?
banyak tersenyum hari ini?
belum ada,
November 5, 2009
tidak ada yang luar biasa dari pertemuan kita pagi itu. selain aku yang bangun terlalu pagi dan terlalu bersemangat datang ke kampus. baru pukul enam lebih dua puluh, dan aku memutuskan untuk duduk di depan gerbang ganesha,ditemani enam biji gorengan, aqua dingin dan sebatang rokok.
.
tidak ada yang luar biasa dari pagi itu. selain aku yang sedikit kesiangan. sudah seminggu terakhir aku disibukkan oleh proyek pribadi ini. memotret seorang bapak tua yang selalu melintas di jalan ganesha sambil mendorong gerobaknya perlahan, tepat pukul enam pagi. tidak kurang,tidak juga lebih. dan akhirnya aku memutuskan untuk duduk saja. ditemani dua tangkup roti yang dibawa dari kosan dan sebotol aqua sisa kemarin yang masih tersimpan.
.
tidak ada yang aku harapkan dari sarapan yang terlalu pagi ini. hanya menunggu sampai pukul tujuh datang. kuliah pertama semester ini, mata kuliah umum dengan jumlah peserta sebanyak jamur di musim penghujan. tapi aku kemudian melihat kamu. duduk mengunyah roti dengan raut muka sedikit kusut. kameramu tergeletak begitu saja disebelah. sungguh saat itu pun tidak ada yang luar biasa yang muncul di hati. aku bukan tipe yang percaya jatuh cinta pada pangangan pertama. maaf saja. kamu pun tidak terlihat luar biasa saat itu, selain mulutmu yang manyun saat mengunyah roti, dan kamu yang terlihat kecil atau sweater merah kamu yang terlalu besar?
.
aku mengunyah roti sambil manyun. dua tangkup roti coklat belum cukup untuk mengobati kekecewaanku tidak bisa memotret si bapak tua. padahal semalam sudah aku pikirkan kata-kata untuk menyapa. belum berjodoh sepertinya. aku melamun menunggu pukul tujuh datang. kuliah perdana semester ini. mata kuliah umum dengan jumlah peserta ratusan. dosen favorit. aku merasa tidak ada yang luar biasa pagi itu. termasuk kamu yang kepedasan mengunyah gorengan dengan mulut berminyak yang duduk di seberang.
.
.
.
saat itu aku belum tahu bahwa butuh setengah semester untuk tahu nama lengkapmu, satu semester untuk menyapa dan satu semester berikutnya untuk bisa mengobrol dan membuatmu tertawa.
.
sampai saat ini aku masih saja bertanya tanya. seperti apa awal perkenalan kita. bagaimana saat ini kamu menjadi luar biasa. lima tahun berlalu sejak pertemuan kita. dan semakin lama kamu semakin mengambil tempat terbesar di hati. maaf jika aku tidak pernah bilang sebelumnya. bukannya sok berahasia. tapi saat itu kamu sudah ada yang punya dan aku bersama dia.
.
***
.
masih jelas sekali dalam kepala bagaimana sore itu berlalu. sekitar satu bulan sesudah aku melihatmu di gerbang ganesha pagi itu. entah bujukan dari siapa yang membuatku akhirnya memutuskan menonton pertandingan basket di campus center. padahal jelas jelas bukan tim dari jurusan yang bertanding.
“ceweknya kece kece Jun. anak plano ni yang main. elo harus nonton. ada kecengan gw”, provokasi salah seorang teman berstatus jomblo.
dan dengan suksesnya aku terbujuk rayuan. ikut saja menemani temanku bertemu sang pujaan. kami memilih duduk tidak terlalu jauh dari kumpulan anak anak plano yang berisik itu. sungguh. mereka berisik sekali. teriakan nyaring para supporter yang hampir 70% nya wanita itu membuat kepalaku sedikit pusing. berada pada kumpulan mayoritas laki-laki selama hampir empat tahun ini membuat telingaku sedikit tidak tahan terhadap teriakan.
tiga puluh menit setelah pertandingan, aku tidak tahan lagi. aku pamit pada temanku, yang ternyata sudah tidak lagi peduli pada pertandingan dan aku. mata dan pikirannya terpaku pada pujaan hati yang sedang semangat berteriak teriak mendukung jurusan.
“dasar sakit”, rutukku pelan.
aku memutuskan untuk berjalan ke depan, mengambil uang karena persediaan di dompet sudah semakin menipis. dan kemudian aku melihatmu. berjalan di bawah jam sambil membawa tumpukan kertas yang terlalu banyak. bukannya aku langsung mengenali kamu. tapi sweater merah yang terlalu besar itu yang mengingatkan aku pada cewek kecil dengan mulut manyun di gerbang ganesha.
“put. putri. putriiiii. ..”, teriakan nyaring itu membuat kamu menoleh dan tertawa. lucu.
‘jadi namamu putri’, catatku dikepala.
dan aku berlalu sambil memasang head set di telinga.
“it’s not like me to pretend, but i’ll get you. i’ll get you in the end. yes i will. i’ll get you in the end. oh yeah..”
.
.
sore ini aku sibuk seperti orang gila. membawa bertumpuk tumpuk buku dan laporan untuk diperiksa. terpaksa aku bawa pulang, karena besok sudah harus selesai pagi pagi sekali. untung saja temanku yang baik mau mengantar. tidak terbayang rasanya berjalan membawa beban seberat ini. kami berjanji pukul empat tepat di bawah jam. ini sudah setengah lima dan dia belum kelihatan ujung rambutnya. disaat aku sudah mau menyerah dan memilih berjalan saja, dia memanggil namaku.
“put. putri. putriiiii..”, nyaring. dan aku tertawa lega
.
.
sore itu bukan awal perkenalan kita. kamu mungkin tidak sadar ada aku yang memperhatikan kamu. cerita ini masih panjang. butuh dua bulan untuk akhirnya tahu nama lengkap dan jurusanmu. satu semester kemudian untuk menyapa dan membuatmu tertawa.
dan butuh lima tahun untuk kita bisa saling bercerita tentang apa saja. tanpa ada rasa sungkan apalagi enggan. seperti sekarang.








