kencan impian

“Yosi, kamu boleh minta diajak kencan kemana saja, kecuali satu”,  katamu setelah kita resmi jadian 3 bulan.

“Kemana saja? Bahkan Afrika atau Rusia?”,  tanyaku setengah tidak percaya.

“Iya, kemana saja. Ke Alaska juga boleh jika kamu benar-benar ingin. Tapi kalau mau kesana, aku harus meminta putri bungsunya terlebih dahulu kepada ayahmu yang galak itu”,  jawabmu sambil menghindari cubitanku.

“Memang di mana kecuali satu itu?”,  aku bertanya sambil tetap berusaha mencubit perut kamu yang agak, ehem, buncit.

“D U F A N”,  balasmu cepat dan lantang.

Aku terdiam beberapa saat.

“Kamu kan tahu DUFAN itu termasuk ke dalam 5 tempat kencan impian aku! Jauh sebelum kita jadian, aku selalu cerita kalau nanti aku punya pacar, Dufan adalah tempat wajib untuk berkencan”,  protesku.

Kamu menunduk dan menghela nafas.

“Memang ada apa dengan Dufan sampai kamu tidak mau kita kencan di sana? Aku menuntut penjelasan sejelas jelasnya. Sekarang juga”,  tuntutku.

“Bukankah ada berjuta-juta tempat lain di wilayah Jabodetabek juga Bandung untuk kita datangi berdua? Taman mini misalnya, atau Kebun Raya Bogor. Atau Kwitang atau mungkin Tanjung Priok melihat kapal seperti yang Ayahmu sering lakukan ketika kamu masih ingusan dulu di pelabuhan Boom Baru Palembang?” ,  tanyamu balik.

“Ga! pokoknya, selain Planetarium dan Kebun Binatang, Dufan itu wajib!”, protesku tidak mau kalah, “Memangnya kenapa sih?  aku ingin naik bianglalanya bersama kamu”.

“Begini ya Yosi”,  jawabmu sambil menarik lenganku dan mengajakku duduk di sebelahmu,  “Pertama, kamu kan tahu kita cuma bisa ke sana Sabtu, Minggu atau hari libur, dan kamu juga tahu bagaimana hebohnya Dufan di kala akhir pekan dan liburan. Kedua, tiketnya mahal, sayang rasanya kalau sudah membayar semahal itu tetapi kita hanya bisa naik 3 atau 4 wahana. Ketiga, aku yakin kamu sudah pernah ke sana bersama teman-teman mainmu dan aku jamin itu pasti lebih seru dibanding pergi ke sana bersamaku. Keempat, aku sebenarnya takut ketinggian dan 70% wahana di Dufan pasti ada unsur ketinggian.”

Aku diam, mencoba meredakan emosi karena kemungkinan 1 dari 5 kencan impian akan gagal.

“Kamu bisa mengerti dan memaklumi aku kan, Yosi?”, tanyamu sambil menatapku dengan pandangan yang tidak mungkin tidak membuatku luluh.

“Kamu curang”, jawabku perlahan.

.

.

.

dan akhirnya, kita kesana. naik bianglala. berdua.

=]

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s