Laskar Wong Kito

Itu julukan bagi tim Sriwijaya FC kebanggaan masyarakat Palembang. Setiap pulang  di saat libur menjelang, saya tidak pernah melewatkan pertandingan Sriwijaya FC di stadion Jaka Baring. Bersama kakak nomor 2 saya dan 2 orang temannya, K Gun dan K Amor dan kadang-kadang Untski atau Cinto atau Adie disaat mereka juga sedang pulang, kami adalah pendukung yang selalu setia memberi semangat.

Dan entah bagaimana, setiap pertandingan yang saya tonton, Sriwijaya FC pasti keluar sebagai pemenang. Ah, mungkin karena saya bawa hoki lagi rezeki. Tapi serius, Sriwijaya FC tidak pernah kalah disaat saya ada disitu menonton dan memberi semangat secara live.

Yang saya suka, walaupun katanya orang Palembang itu galak lagi seram dan hobi berantem, tapi bagi saya yang dari lahir dan besar di Palembang, orang Palembang terlihat agak sedikit ramah di mata saya.

Menonton Sriwijaya FC bertanding diantara ratusan bahkan ribuan pendukung lain, saya merasa aman-aman saja. Paling yang membuat sebal adalah para laki-laki yang dengan tidak bertanggungjawabnya merokok dan meniupkan asap-asap beracunnya kemana-mana. Mungkin 8 dari 10 laki-laki yang menonton, merokok (belum teruji secara statistik sih, tapi yang saya tahu, kanan kiri depan belakang saya pasti ada saja asap rokok yang mengepul. Huks). Tidak pernah sekalipun terjadi baku hantam atau penonton yang kelewat anarkis. Pernah satu kali, ketika bertanding melawan klub mana gitu (lupa!), penontonnya ‘hanya’ melempari botol mineral kosong ke tengah lapangan. Tapi ya itu tadi, saya merasa aman-aman saja.

Hal ini berbeda sekali ketika suatu saat saya menonton pertandingan live Persib di Bandung. Ini juga karena kakak saya yang nomor 2 itu sedang main ke Bandung dan keukeuh pengen nonton Persib secara live. Dan kebetulan juga saat itu perayaan ulang tahun Persib ntah yang keberapa, dan ada bintang tamu Peter Pan (sekarang namanya apa ya?). Pokoknya hari itu ramai luar biasa, saya dan si kakak belum punya tiket di tangan. Jadilah kami korban para calo-calo beringas yang seenak jidatnya menaikkan harga sampai 3 kali lipat (di Palembang, harga tiket yang dijual calo sama saja dengan yang dijual di loket resmi, kalaupun lebih mahal, paling beda 5 ribu perak!). Dan yang membuat saya benar-benar kapok, stadion Persib sungguh jauh dari layak, dan lagi, kapasitasnya terlalu kecil untuk para bobotoh yang oh-my-God sungguh luar biasa semangatnya. Ada yang mabok, ber an*ing-an*ing ke semua orang dorong sana sini. Ya Tuhan, saya benar-benar kapok! Untung saja, sebelum keadaan diluar kendali, saya dan si kakak memutuskan angkat kaki bahkan sebelum pertandingan dimulai. Kami sudah ketar-ketir.

Pertandingan biasanya dimulai pukul 3  hingga 5 sore. Saya suka sekali ketika pertandingan hampir berakhir. Merayakan kemenangan Sriwijaya FC berlatar langit senja yang menjingga.

ah,  ini dia stadion kebanggaan wong kito. Ini saya ambil ketika Sriwijaya FC vs Persik Kediri (gitu?)

.

.

Dan ini biasanya suasana langit setelah pertandingan usai.

.

.

Yek, nanti kalau adek pulang, kita nonton lagi ya.

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s