pesan Ayah

Saya ingat sekali bagaimana Ayah dulu pernah berpesan. Satu hari menjelang keberangkatan saya ke Bandung untuk menunaikan  wajib belajar 16 tahun, hampir 6 tahun yang lalu.

“Ingat selalu ya Dek, setiap akan melangkah keluar rumah, niatkan dalam hati. Semoga langkah hari ini diridhai Tuhan. Dan semoga ilmu yang didapat akan menjadi pembelajaran yang bermanfaat buat kamu, bangsa, agama juga dunia.”

(Cuma Ayah dan Ibu masih yang setia memanggil saya  dengan panggilan ‘Dek. Anggota rumah yang lain sudah terlalu nyaman memanggil saya dengan sebutan ‘Nek)

Saat itu saya hanya mengangguk pertanda iya, tanpa benar-benar memahami apa maksud Ayah sebenarnya. Maklum, hasrat remaja yang baru lulus SMA. Berkuliah di pulau seberang, belajar hidup mandiri tanpa ada yang cerewet jika pulang kemalaman merupakan petualangan yang sudah tidak sabar saya rasakan.

.

Saya sungguh beruntung memiliki kedua orang tua seperti mereka yang tidak pernah memaksa saya untuk masuk jurusan dan universitas tertentu. Seingat saya, Ayah dan Ibu tidak pernah menanyakan apakah saya kesulitan mengerjakan pr matematika atau fisika. Mungkin karena Ayah yang ‘hanya’ lulusan STM dan Ibu yang ‘cuma’ lulusan SD. Mereka pun tidak pernah cerewet menanyakan bagaimana nilai-nilai saya. Mereka hanya tersenyum bangga saat rapor dibagikan, karena hampir dipastikan saya selalu menjadi juara kelas bahkan satu sekolah, setidaknya sampai saya SMP, karena di jaman SMA ada begitu banyak orang yang lebih pintar di luaran sana.

Itu pelajaran berharga yang saya dapatkan.

Di atas langit, masih ada langit. Jangan lekas berpuas diri.

.

Semenjak memutuskan untuk kuliah jauh dari rumah, saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk mandiri. bukan dalam artian tidak akan meminta uang saku dari Ayah sama sekali, tetapi saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak meminta uang tambahan. Mau kerenya kayak apa di akhir bulan, saya tidak akan merengek untuk meminta uang jajan tambahan. Dan alhamdulillah, seingat saya, tidak pernah sekalipun saya merengek meminta uang jajan tambahan selama saya kuliah 4.5 tahun di Bandung. Jika Ayah berinisiatif untuk menambahkan uang jajan tanpa saya minta, itu tidak termasuk hitungan. =)

.

Dan pesan itu terus diulang-ulang oleh ayah, hingga saat ini saya masih (saja) di bangku kuliah, menunaikan wajib belajar 18 tahun di negeri seberang. Percakapan terakhir dengan Ayah terjadi 2 hari yang lalu. Seperti biasa hal pertama yang beliau tanyakan adalah kabar dan kemudian,

” Gimana, uangnya masih cukup?”

Mungkin dulu, pertanyaan itu cukup saya tunggu, dimana biasanya saya hanya akan menjawab,

“Tenang Yah, masih cukup ko. Tapi kalau mau ngirim, ya ga akan ditolak.”

Tapi sekarang, saya menjawab

” Tenang Yah, putri bungsumu ini sedang belanjar mandiri, termasuk secara finansial. sudah 23 umurnya, malu rasanya kalau masih harus meminta Ayah. Doakan saja semoga rezekinya lancar. Tenang, Adek tidak akan bertambah kurus disini”

Lalu Ayah hanya tertawa mendengarnya, sambil menyerahkan telepon ke Ibu. Dan seperti biasa pula, Ibu akan keukeuh

“Kalau kamu ingin dan butuh beli apa-apa, jangan sungkan bilang ke Ayah ya ‘Dek”

Kemudian percakapan akan berlanjut apakah saya sudah makan, makan dengan lauk apa, bagaimana kuliahnya dan kapan saya pulang. Untungnya, lagi-lagi, Ayah dan Ibu jaraaaang sekali bertanya soal kapan saya menikah (Hey, saya BARU 23!). Rupanya mereka masih khawatir putri bungsunya ini kelaparan di Taiwan.

Kemudian di akhir percakapan, Ayah (selalu) menyelipkan sederet pesan.

“Ingat selalu ya Dek, setiap akan melangkah keluar rumah, niatkan dalam hati. Semoga langkah hari ini diridhai Tuhan. Dan semoga ilmu yang didapat akan menjadi pembelajaran yang bermanfaat buat kamu, bangsa, agama juga dunia.”


.

Ayah sayang, sekarang saya mulai memahami pesan yang engkau berikan. Karena sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang berguna untuk sesama. Dan sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang dimanfaatkan, untuk manusia, negara, dunia juga agama. Doakan selalu putri bungsumu ini agar segera bermanfaat, dengan ilmu yang dipunya. Untuk sesama manusia, Indonesia tercinta, agama juga dunia. Dan saya selalu berdoa semoga kita selalu berbahagia.

maafkan belum bisa segera pulang.

tapi dirimu menjadi yang pertama terlantun dalam setiap doa.

karena saya mencintaimu. teramat sangat.

.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s