tidak ada yang luar biasa dari pertemuan kita pagi itu. selain aku yang bangun terlalu pagi dan terlalu bersemangat datang ke kampus. baru pukul enam lebih dua puluh, dan aku memutuskan untuk duduk di depan gerbang ganesha,ditemani enam biji gorengan, aqua dingin dan sebatang rokok.
.
tidak ada yang luar biasa dari pagi itu. selain aku yang sedikit kesiangan. sudah seminggu terakhir aku disibukkan oleh proyek pribadi ini. memotret seorang bapak tua yang selalu melintas di jalan ganesha sambil mendorong gerobaknya perlahan, tepat pukul enam pagi. tidak kurang,tidak juga lebih. dan akhirnya aku memutuskan untuk duduk saja. ditemani dua tangkup roti yang dibawa dari kosan dan sebotol aqua sisa kemarin yang masih tersimpan.
.
tidak ada yang aku harapkan dari sarapan yang terlalu pagi ini. hanya menunggu sampai pukul tujuh datang. kuliah pertama semester ini, mata kuliah umum dengan jumlah peserta sebanyak jamur di musim penghujan. tapi aku kemudian melihat kamu. duduk mengunyah roti dengan raut muka sedikit kusut. kameramu tergeletak begitu saja disebelah. sungguh saat itu pun tidak ada yang luar biasa yang muncul di hati. aku bukan tipe yang percaya jatuh cinta pada pangangan pertama. maaf saja. kamu pun tidak terlihat luar biasa saat itu, selain mulutmu yang manyun saat mengunyah roti, dan kamu yang terlihat kecil atau sweater merah kamu yang terlalu besar?
.
aku mengunyah roti sambil manyun. dua tangkup roti coklat belum cukup untuk mengobati kekecewaanku tidak bisa memotret si bapak tua. padahal semalam sudah aku pikirkan kata-kata untuk menyapa. belum berjodoh sepertinya. aku melamun menunggu pukul tujuh datang. kuliah perdana semester ini. mata kuliah umum dengan jumlah peserta ratusan. dosen favorit. aku merasa tidak ada yang luar biasa pagi itu. termasuk kamu yang kepedasan mengunyah gorengan dengan mulut berminyak yang duduk di seberang.
.
.
.
saat itu aku belum tahu bahwa butuh setengah semester untuk tahu nama lengkapmu, satu semester untuk menyapa dan satu semester berikutnya untuk bisa mengobrol dan membuatmu tertawa.
.
sampai saat ini aku masih saja bertanya tanya. seperti apa awal perkenalan kita. bagaimana saat ini kamu menjadi luar biasa. lima tahun berlalu sejak pertemuan kita. dan semakin lama kamu semakin mengambil tempat terbesar di hati. maaf jika aku tidak pernah bilang sebelumnya. bukannya sok berahasia. tapi saat itu kamu sudah ada yang punya dan aku bersama dia.
.
***
.
masih jelas sekali dalam kepala bagaimana sore itu berlalu. sekitar satu bulan sesudah aku melihatmu di gerbang ganesha pagi itu. entah bujukan dari siapa yang membuatku akhirnya memutuskan menonton pertandingan basket di campus center. padahal jelas jelas bukan tim dari jurusan yang bertanding.
“ceweknya kece kece Jun. anak plano ni yang main. elo harus nonton. ada kecengan gw”, provokasi salah seorang teman berstatus jomblo.
dan dengan suksesnya aku terbujuk rayuan. ikut saja menemani temanku bertemu sang pujaan. kami memilih duduk tidak terlalu jauh dari kumpulan anak anak plano yang berisik itu. sungguh. mereka berisik sekali. teriakan nyaring para supporter yang hampir 70% nya wanita itu membuat kepalaku sedikit pusing. berada pada kumpulan mayoritas laki-laki selama hampir empat tahun ini membuat telingaku sedikit tidak tahan terhadap teriakan.
tiga puluh menit setelah pertandingan, aku tidak tahan lagi. aku pamit pada temanku, yang ternyata sudah tidak lagi peduli pada pertandingan dan aku. mata dan pikirannya terpaku pada pujaan hati yang sedang semangat berteriak teriak mendukung jurusan.
“dasar sakit”, rutukku pelan.
aku memutuskan untuk berjalan ke depan, mengambil uang karena persediaan di dompet sudah semakin menipis. dan kemudian aku melihatmu. berjalan di bawah jam sambil membawa tumpukan kertas yang terlalu banyak. bukannya aku langsung mengenali kamu. tapi sweater merah yang terlalu besar itu yang mengingatkan aku pada cewek kecil dengan mulut manyun di gerbang ganesha.
“put. putri. putriiiii. ..”, teriakan nyaring itu membuat kamu menoleh dan tertawa. lucu.
‘jadi namamu putri’, catatku dikepala.
dan aku berlalu sambil memasang head set di telinga.
“it’s not like me to pretend, but i’ll get you. i’ll get you in the end. yes i will. i’ll get you in the end. oh yeah..”
.
.
sore ini aku sibuk seperti orang gila. membawa bertumpuk tumpuk buku dan laporan untuk diperiksa. terpaksa aku bawa pulang, karena besok sudah harus selesai pagi pagi sekali. untung saja temanku yang baik mau mengantar. tidak terbayang rasanya berjalan membawa beban seberat ini. kami berjanji pukul empat tepat di bawah jam. ini sudah setengah lima dan dia belum kelihatan ujung rambutnya. disaat aku sudah mau menyerah dan memilih berjalan saja, dia memanggil namaku.
“put. putri. putriiiii..”, nyaring. dan aku tertawa lega
.
.
sore itu bukan awal perkenalan kita. kamu mungkin tidak sadar ada aku yang memperhatikan kamu. cerita ini masih panjang. butuh dua bulan untuk akhirnya tahu nama lengkap dan jurusanmu. satu semester kemudian untuk menyapa dan membuatmu tertawa.
dan butuh lima tahun untuk kita bisa saling bercerita tentang apa saja. tanpa ada rasa sungkan apalagi enggan. seperti sekarang.
Like this:
Be the first to like this post.