.
ada kamu disetiap tetes hujan yang turun.
meresap ke dalam tanah.
menyisakan aroma memabukkan di udara,
.
pertemuan,
ialah rindu yang terbayar lunas.
.
.
have i told u that i love rain this much?
[dan bukankah kencan pertama kita pun ditemani hujan?]
“apa yang membuatmu begitu menyukai hujan?”, tanyamu sore itu saat aku meminta ditemani membaui sisa hujan di sepanjang jalan Dago. =)
“hmm, salah satunya? ini . . .”
.
.
.
.
i love seeing skies on the ground as if i could touch or step on it.
i love seeing rain drops and play with it.
i love taking a long and deep breath, filling my lung with rain perfume
i love seeing u seeing me.
and now?
i hope i could find your face reflected on the ground.
seeing u seeing me. =]
.
.
.
.
.
.
.
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Sapardi Djoko Damono
.
If I could bottled the smell of the wet land after the rain.
I’d make it a perfume and send it to your house.
If one in a million stars suddenly will hit satellite.
I’ll pick some pieces, they’ll be on your way.
In a far land across.
You’re standing at the sea.
Then the wind blows the scent.
And that little star will there to guide me.
If only I could find my way to the ocean.
I’m already there with you.
If somewhere down the line.
We will never get to meet.
I’ll always wait for you after the rain.
(Aditya sofyan, after the rain)
.
.
satu
lima
sepuluh,
.
dan aku masih saja menghitung
tetesan gerimis yang memantul di jendela.
. . . . . . . . . . . . (sambil melamun tentu saja)
.
.
bukankah kamu juga lelaki pencinta hujan?
masihkah?
.
ah, belum waktunya si payung biru dibuka lebar,
dan aku kita memang masih harus bersabar.
.
.
.
If somewhere down the line.
We will never get to meet.
I’ll always wait for you after the rain.
.
.
.
.
‘ bandung akhir akhir ini hujan terus, bu’,
‘jadi susah mau kemana mana, harus pake ponco, apalagi kalau jalanan sampai tergenang. nyiprat kemana mana. kotor. belum lagi dinginnya.’, omelnya
.
.
dan aku hanya tersenyum.
.
.
sudah hampir terlupa,
bahwasanya dulu saya juga sering mengeluh pada langit yang menjatuhkan tetesan air ke tanah.
entah kapan berhenti melakukannya.
‘langit sudah amat rindu dengan bumi, itu sebabnya ia mengirimkan tetesan hujan untuk menyapa’
.
mencoba mengerti,
apa yang hendak langit sampaikan.
.
.
dan kini aku tersenyum saat hujan.
bukankah hujan itu romantis?
kamu tahu bahwa bau saat titik titik air mulai menyentuh tanah adalah parfum paling enak sedunia?
.
.
mari tersenyum bersama saat langit menurunkan hujan,
ia sedang bercerita dengan sang bumi,
coba diam sebentar,
mungkin kita bisa ikut mendengar cerita mereka.
.
.
or you could dance in the rain with the yellow umbrella?
.
.
“Anyone who says sunshine brings happiness has never danced in the rain”