Tag Archives: cerita kita

rules #1

4 Jan

“waiting is a part of dating”

.

.

.

.

err,
are we dating?

Try?

19 Dec

Kemudian kamu bertanya ada perlu apa hingga aku menelponmu jam delapan malam itu.

“Aku ingin bertemu”

“Tidak bisa besok?”

Ah, suaramu ketus sekali Putri. Kamu masih marah atau malah sakit hati?

“Tidak bisa sekarang?”

Maaf, aku memang lancang, juga pura pura tuli untuk menangkap rasa enggan di suaramu.

“Jemput aku lima belas menit lagi”

“Lihat keluar jendela, aku bawa martabak asin kesukaan kita”

.

**

.

“Kamu apa kabar Putri?”

Kamu masih seperti terakhir saat kita terakhir bertemu. Dengan sweater merah kebesaranmu yang warnanya semakin pudar. Ah, tapi aku melihat ada sendu di matamu dan benarkah kamu terlihat semakin kecil?.  Akukah penyebab semua itu?

“Kamu kemana saja selama ini?”, tanyamu perlahan sambil memandangi langit.

“Ada, disini.”

Aku tidak kemana mana. Kamu juga. Kita tetap di sini.

“Kalau ada, kenapa tidak pernah memberi kabar. Nama kamu sudah tidak pernah muncul di layar hp ku enam bulan ini.  Sibuk sekali? Atau aku mulai terlupakan?”

Maaf jika selama ini aku tidak menghubungimu, bukan berarti aku lupa. Tapi saat itu aku merasa lebih baik kalau aku pergi dari hidupmu. Bukan. Aku bukan pengecut. Aku adalah laki laki pemberani, yang tidak mengenal kata menyerah. Kamu tahu itu lebih daripada yang lain.  Maka jika kamu merasa aku menghilang, sesungguhnya aku hanya menepi sebentar. aku hanya (sedikit) kelelahan. Mencari jawaban atas semua pertanyaan yang sering membuat dada ini sesak.

“Aku kangen kamu Putri”

“Kenapa sms dan telepon dari aku tidak pernah kamu balas? Kamu kenapa? Aku salah apa?”

“Kamu tidak salah. Aku yang keterlaluan. Aku lelah”

“Kenapa kamu tidak bercerita?”

Maaf jika aku hanya bisa meminta maaf.  aku belum bisa membagi semua ini. Bukan kamu tidak berarti. Aku ingin berhenti Putri. Berhenti bertanya tanya atas semua misteri hidup. Tentang bagaimana aku sepuluh tahun kedepan dan akan bersama siapa sisa hidup ini akan dihabiskanPertanyaan pertanyaan itu selalu muncul, sampai membuat dada ini penuh. Aku sedang mencoba berdamai dengan hatiku sendiri, sedang mencoba mengerti dan megikuti takdir hidupku.

“Kamu tahu gimana aku enam bulan terakhir ini? Mencari tahu kesalahan apa yang aku buat sampai kamu menghilang begitu saja.  Kamu mau aku gimana? Kita gimana? “

Aku tahu. Tahu benar bagaimana rasanya. Betapa aku mencoba mati matian untuk menghilangkan kamu dari keseharianku. Aku merasa hampa saat itu. Kosong.

“Kamu sayang aku Putri?”

“Masih perlu aku jawab pertanyaan kamu itu? Setelah apa yang kita lalui lima tahun ini aku tidak bisa tidak sayang kamu. Ketika kamu memilih untuk pergi pun, rasa sayang ini masih disini. Aku sayang kamu. Terlalu. Kamu?”, isak kecil mulai terdengar dan air mata mulai menggenang di pelupuk matamu.

Tentu saja aku sayang kamu. Rasa sayang ini juga tidak pernah pergi. Bahkan setelah aku mencoba untuk berlari dan mengingkari.  Kamu itu terlalu berarti Putri. Hati ini sudah kamu curi. Terlalu banyak.

“Putri, boleh aku minta satu hal dari kamu?”

Lagi lagi aku (terlalu) egois. Setelah menghilang begitu saja, kini aku muncul di hadapan kamu tiba tiba. Aku sadar, bahwa mungkin yang aku minta saat ini keterlaluan. Tapi maukah kamu untuk (sedikit) bersabar? Bersama laki laki tidak tahu diri ini lebih lama lagi. Sampai kita menemukan semua jawaban yang kita cari. Aku tidak minta dikasihani, hati ini hanya ingin ditemani. Hanya oleh kamu.

Dan air mata itu akhirnya keluar juga.

“Kamu cuma boleh menangis kalau aku ada disebelah kamu. Ya? Biar ada yang menghapus air mata kamu dan melucu sesudahnya”

.

Putri,
Try to hold on
To this heart
A little bit closer
Try to hold on
To this love aloud
Try to hold on
For this heart
A little bit longer
Try to hold on
And we have survived
Try to hold on
And no one should deny

.



gerimis sore itu,

14 Nov

bandung, 9 september 2007

sore itu kita berjanji berjumpa. di tempat biasa. setelah sekitar enam bulan kamu lenyap begitu saja. tanpa kabar berita.  kita memang satu kampus. tapi melihatmu saja aku tidak pernah. jangankan untuk bercerita. kesempatan untuk menyapa saja hampir tidak ada. dan pukul sepuluh tadi ada sms yang sampai. dari kamu. akhirnya.

‘bisa kita bertemu sore ini pukul tiga? di tempat biasa. bercerita. ya?’

seperti sms-sms mu yang lalu. tidak pernah memaksimalkan kuota 160 karakter yang disediakan. kita memang bagai langit dan bumi soal ini.

sore itu hujan gerimis. rinainya tipis. aku bisa melihat butir butir air yang dicurahkan dari langit. cantik. aku selalu suka hujan. dan bukankah kamu juga lelaki pencinta hujan?

aku menunggumu ditemani bala bantuan penuh. novel dan headset di telinga.  ini sudah pukul lima. tapi kamu belum terlihat juga. sudah dua gelas coklat panas yang aku habiskan, duapuluh halaman buku ‘the autobiography of my mother nya jamaica kincaid’ dan satu putaran playlist di telepon genggam.

‘kamu kemana? bukankah kita berjanji bertemu pukul tiga?’

.

maka maafkan aku jika berharap terlalu banyak. ada begitu banyak cerita yang ingin aku sampaikan dan leih banyak lagi yang ingin aku dengarkan.

tik,

tik,

harmoni suara si gerimis genit mengetuk ngetuk kaca jendela dan jarum jam terdengar seperti tawa ejekan.

.

dan ternyata,

kamu tidak datang hingga senja menjelang. sampai aku memutuskan untuk menyerah dan pulang.

.

.

.

.

mungkin saat itu kamu sedang terjebak rapat mendadak di himpunan dan telepon kamu kehabisan baterai. atau tiba tiba saat itu kamu diminta dosen untuk mengawas ujian sampai tidak sempat mengabarkan. entahlah. aku tidak pernah tahu apa alasanmu sore itu.

.

dan kamu baru meminta maaf dua hari kemudian.

belum ada,

5 Nov

tidak ada yang luar biasa dari pertemuan kita pagi itu.  selain aku yang bangun terlalu pagi dan terlalu bersemangat datang ke kampus.  baru pukul enam lebih dua puluh, dan aku memutuskan untuk duduk di depan gerbang ganesha,ditemani enam biji gorengan, aqua dingin dan sebatang rokok.

.

tidak ada yang luar biasa dari pagi itu. selain aku yang sedikit kesiangan. sudah seminggu terakhir aku disibukkan oleh proyek pribadi ini.  memotret seorang bapak tua yang selalu melintas di jalan ganesha sambil mendorong gerobaknya perlahan, tepat pukul enam pagi. tidak kurang,tidak juga lebih.  dan akhirnya aku memutuskan untuk duduk saja. ditemani dua tangkup roti yang dibawa dari kosan dan sebotol aqua sisa kemarin yang masih tersimpan.

.

tidak ada yang aku harapkan dari sarapan yang terlalu pagi ini. hanya menunggu sampai pukul tujuh datang. kuliah pertama semester ini, mata kuliah umum dengan jumlah peserta sebanyak jamur di musim penghujan.  tapi aku kemudian melihat kamu. duduk mengunyah roti dengan raut muka sedikit kusut. kameramu tergeletak begitu saja disebelah. sungguh saat itu pun tidak ada yang luar biasa yang muncul di hati. aku bukan tipe yang percaya jatuh cinta pada pangangan pertama. maaf saja. kamu pun tidak terlihat luar biasa saat itu, selain mulutmu yang manyun saat mengunyah roti, dan kamu yang terlihat kecil atau sweater merah kamu yang terlalu besar?

.

aku mengunyah roti sambil manyun. dua tangkup roti coklat belum cukup untuk mengobati kekecewaanku tidak bisa memotret si bapak tua. padahal semalam sudah aku pikirkan kata-kata untuk menyapa. belum berjodoh sepertinya. aku melamun menunggu pukul tujuh datang. kuliah perdana semester ini. mata kuliah umum dengan jumlah peserta ratusan. dosen favorit. aku merasa tidak ada yang luar biasa pagi itu. termasuk kamu yang kepedasan mengunyah gorengan dengan mulut berminyak yang duduk di seberang.

.

.

.

saat itu aku belum tahu bahwa butuh setengah semester untuk tahu nama lengkapmu, satu semester untuk menyapa dan satu semester berikutnya untuk bisa mengobrol dan membuatmu tertawa.

.

sampai saat ini aku masih saja bertanya tanya. seperti apa awal perkenalan kita. bagaimana saat ini kamu menjadi luar biasa. lima tahun berlalu sejak  pertemuan kita. dan semakin lama kamu semakin mengambil tempat terbesar di hati. maaf jika aku tidak pernah bilang sebelumnya. bukannya sok berahasia. tapi saat itu kamu sudah ada yang punya dan aku bersama dia.

.

***

.

masih jelas sekali dalam kepala bagaimana sore itu berlalu. sekitar satu bulan sesudah aku melihatmu di gerbang ganesha pagi itu. entah bujukan dari siapa yang membuatku akhirnya memutuskan menonton pertandingan basket di campus center. padahal jelas jelas bukan tim dari jurusan yang bertanding.

“ceweknya kece kece Jun. anak plano ni yang main. elo harus nonton. ada kecengan gw”, provokasi salah seorang teman berstatus jomblo.

dan dengan suksesnya aku terbujuk rayuan. ikut saja menemani temanku bertemu sang pujaan. kami memilih duduk tidak terlalu jauh dari kumpulan anak anak plano yang berisik itu. sungguh. mereka berisik sekali.  teriakan nyaring para supporter yang hampir 70% nya wanita itu membuat kepalaku sedikit pusing. berada pada kumpulan mayoritas laki-laki selama hampir empat tahun ini membuat telingaku sedikit tidak tahan terhadap teriakan.

tiga puluh menit setelah pertandingan, aku tidak tahan lagi. aku pamit pada temanku, yang ternyata sudah tidak lagi peduli  pada pertandingan dan aku. mata dan pikirannya terpaku pada pujaan hati yang sedang semangat berteriak teriak mendukung jurusan.

“dasar sakit”, rutukku pelan.

aku memutuskan untuk berjalan ke depan,  mengambil uang karena persediaan di dompet sudah semakin menipis. dan kemudian aku melihatmu. berjalan di bawah jam sambil membawa tumpukan kertas  yang terlalu banyak. bukannya aku langsung mengenali kamu. tapi sweater merah yang terlalu besar itu yang mengingatkan aku pada cewek kecil dengan mulut manyun di gerbang ganesha.

“put. putri. putriiiii. ..”, teriakan nyaring itu membuat kamu menoleh dan tertawa. lucu.

‘jadi namamu putri’, catatku dikepala.

dan aku berlalu sambil memasang head set di telinga.

“it’s not like me to pretend, but i’ll get you. i’ll get you in the end. yes i will. i’ll get you in the end. oh yeah..”

.

.

sore ini aku sibuk seperti orang gila. membawa bertumpuk tumpuk buku dan laporan untuk diperiksa. terpaksa aku bawa pulang, karena besok sudah harus selesai pagi pagi sekali. untung saja temanku yang baik mau mengantar. tidak terbayang rasanya berjalan membawa beban seberat ini. kami berjanji pukul empat tepat di bawah jam. ini sudah setengah lima dan dia belum kelihatan ujung rambutnya. disaat aku sudah mau menyerah dan memilih berjalan saja, dia memanggil namaku.

“put.  putri. putriiiii..”, nyaring. dan aku tertawa lega


.

.

sore itu bukan awal perkenalan kita. kamu mungkin tidak sadar ada aku yang  memperhatikan kamu. cerita ini masih panjang. butuh dua bulan untuk akhirnya tahu nama lengkap dan jurusanmu. satu semester kemudian untuk menyapa dan membuatmu tertawa.

dan butuh lima tahun untuk kita bisa saling bercerita tentang apa saja. tanpa ada rasa sungkan apalagi enggan.  seperti sekarang.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.